Rabu, 01 Agustus 2012

[FF] What Is Love


Author: Riri
Cast: -Xi Luhan
-Oh Sehun
-Song Hyemin
Genre: Romance

***

Hyemin kecil terduduk diaras rumput sambil menangis. Wajahnya tertunduk. Sesekali ia menoleh pada segerombolan anak-anak. Seorang namja cilik menghampirinya dengan wajah ingin tahu.

“Kenapa?” Tanya namja itu dengan suara anak-anaknya
“Bonekaku diambil mereka” jawab Hyemin sambil menunjuk gerombolan anak-anak yang bertubuh lebih besar darinya. Namja itu mengangguk paham dan menghampiri gerombolan itu. Hyemin tidak peduli dan hanya menunduk menangis.

Tidak lama kemudian, namja itu kembali dengan membawa boneka yang Hyemin maksud.
“Bonekaku!” teriak Hyemin senang
“Kamsahaeyo!” Lanjutnya berbinar membuat namja cilik itu menyunggingkan sudut bibirnya yang berdarah.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Hyemin
“Gapapa. Cuma kepukul sedikit” Jawab namja itu
“Lain kali jangan nangis, kamu harus lebih kuat” lanjut namja itu sambil tersenyum dan berlalu pergi.

***

“Apasih? Dasar anak pindahan, jangan sok berani” Ejek seorang anak bertubuh besar yang diberi anggukan teman-temannya yang berdiri melingkar. Luhan kecil merasa terkucilkan berada ditengah-tengah lingkaran itu. Dengan tenaga seadanya, Luhan mendorong anak yang tadi mengejeknya. Anak itu tidak bergeming, ia justru melayangkan kepalan tangannya kearah wajah Luhan hingga tubuh kecil Luhan jatuh tersungkur.

Hyemin yang melihat kejadian itu berlari menghampiri Luhan.
“Ya! Kalian jahat!” Teriak Hyemin sambil memukul salah satu dari gerombolan itu.
“Apa? Kau mau dipukul juga?” Tantang salah satu anak.
Luhan hanya mengisap darah yang mengalir dibibirnya. Melihat darah Luhan, gerombolan anak itu menjauh tanpa menolong sedikitpun.

“Gapapa? Apa aja yang sakit?” Tanya Hyemin khawatir.
Luhan menunjuk luka bibirnya. Hyemin mencium bibir Luhan ala anak-anak.
“Kalo aku luka, ibuku suka cium lukaku, terus aku ngerasa lebih baik” jelas Hyemin dengan otak anak lima tahunnya. Luhan hanya tersenyum.

“Masih sakit gak?” Tanya Hyemin
“Gak juga kok” Jawab Luhan polos
“Yang kuat ya. Kan kamu sendiri yang bilang aku harus lebih kuat” ujar Hyemin membuat Luhan tersenyum mengingat kejadian dua hari lalu, ketika ia menyemangati Hyemin yang menangis.

“Hyemin. Song Hyemin” ucap Hyemin sambil menjulurkan tangan.
“Xi Luhan” balas Luhan sambil menggenggam tangan Hyemin
“Apa?”
“Kenapa?”
“Tadi namamu siapa?”
“Xi Luhan. Luhan”
“Aku belum pernah dengar nama keluargamu”
“Aku pindahan dari China”
“Oooh. Kapan pindahnya?”
“Seminggu lalu”
“Kenapa pindah kesini?”
“Ayah aku ada urusan bisnis disini. Tapi ayah aku sibuk banget tiap hari, Ibu aku juga udah disini malah kerja, jadi aku bosen banget”
“Lain kali, kita mainnya sama-sama aja biar kamu gak bosen”
Luhan tersenyum mendengar usulan Hyemin. Sejak saat itu, Luhan dan Hyemin berteman baik.

***

Luhan ingin merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Tapi kesibukan ayahnya membuat keinginan itu tidak dapat tercapai. Maka dihari ulang tahunnya, Luhan hanya dapat duduk di pondok kecil yang memisahkan rumahnya dengan rumah Hyemin.

Hyemin yang melihat itu kemudian menghampiri Luhan.
“Sendiri aja, kenapa?” Tanya Hyemin sambil duduk disamping Luhan
“Ayah aku sibuk banget, aku mau sekali aja ulang tahun aku dirayain” keluh Luhan
“Kamu gak sedih?” tanya Hyemin setelah terdiam beberapa saat
“Sedih sih”
“Kok gak nangis?”
“Nangis itu gak menyelesaikan masalah” Lagi-lagi jawaban Luhan membuat Hyemin terdiam.
“Kita rayain sama-sama aja yuk” usul Hyemin sambil menarik tangan Luhan.

Kehidupan yang kurang mendapat perhatian orang tuanya menbuat dirinya lebih mandiri, meskipun begitu, tentu ia sering merasa kesepian dan bosan. Kehadiran Hyemin—teman pertama dan terbaiknya selama tinggal di Korea—membuatnya bisa membunuh rasa bosan dan sepi yang selama ini iya alami. Luhan tidak ingin kehilangan Hyemin.

*8 Tahun Kemudian*

Luhan mengendarai motornya menuju kampus. Hyemin yang duduk dibelakang merangkul erat punggung sahabatnya itu.

Luhan sengaja membelokan motornya dengan tajam untuk mengagetkan Hyemin.
“Ya! Hati-hati dong!” protes Hyemin sambil memukul pelan pundak Luhan yang hanya dibalas cengiran.
Hyemin kembali memeluk punggung Luhan. Dirasakannya perasaan nyaman dengan sahabatnya itu.

“Udah sampe, mau nginep dimotor?” Delik Luhan membuyarkan lamunan Hyemin.
Luhan memasuki gedung kampus bersama Hyemin.
“Aku duluan ya” lambai Luhan yang sudah dulu masuk kelasnya. Hyemin hanya tersenyum dan meneruskan berlajan kekelasnya yang berada dibagian belakang gedung. Hyemin dan Luhan memang satu universitas, tapi berbeda jurusan.

Hyemin meletakkan tasnya didekat jendela. Tatapannya jatuh pada seorang namja yang sedang melemparkan bola basket  kedalam ring. Namja yang hanya bermain sendirian itu seakan menghipnotis Hyemin sesaat.

Tiba-tiba namja itu melirik lengannya dan pergi membiarkan bola basketnya menggelinding. Hyemin sendiri ikut-ikutan melirik jam tangannya. Memang sudah sebentar lagi dosennya datang.

***

Hyemin langsung berlari menuju kelas Luhan ketika bel menandakan pulang berbunyi.
“Luhan-a!” Lambai Hyemin dari ambang pintu pada Luhan yang sedang merapikan tasnya. Hyemin melambai dengan susah payah karena banyak murid lain yang menghalanginya, sedangkan tubuhnya tidak cukup tinggi.

“Tumben semangat banget. Kenapa?” Tanya Luhan saat menghampiri Hyemin
“Tadi pagi aku liat namja keren loh!” Sambar Hyemin.
“Oh” Jawab Luhan singkat sambil berjalan keluar
“Sepanjang pelajaran aku tidak sabar untuk menceritakannya padamu”
“Oh”
“Tadi pagi dia main basket sendirian dilapangan belakang, keren sekaliii”
“Oh”
“Kamu ini kenapa sih? Daritadi jawabannya ‘Oh’ terus” protes Hyemin ahirnya
“Aku capek” jawab Luhan sekenanya. Hyemin mencibir.

Tiba-tiba seorang namja tinggi tidak sengaja menabrak pundak Hyemin.
“Aiih” erang Hyemin pelang dan bersiap memaki namja yang tidak berjalan dengan hati-jati itu
“Ups, mianhae” ucap namja tinggi yang ternyata Sehun itu. Sehun hanya tersenyum bersalah dan kembali berjalan.
Hyemin menatap Luhan dengan senyum lebar seakan melewati pipinya.
“Itu orangnya!” jerit Hyemin tertahan
“Oh. Itu Sehun” ucap Luhan singkat namun membuat wajah Hyemin berbinar.
“Dia keren bangeeet”
“Tinggi kamu gasesuai sama dia”
“Ya! Kok nusuk banget sih!” rengut Hyemin sambil memukul Luhan pelan. Yang dipukul hanya membalas dengan cengiran.

***

Luhan baru terbangun dari tidur dan merasakan sakit kepala yang seakan mengikat kepalanya. Luhan turun dari ranjang perlahan sambil memegangi kepalanya. Tatapannya jatuh pada jam dimeja samping kasurnya. 07.26AM. Ia harus bersiap ke kuliah.

Setelah siap berangkat, seperti biasa, Luhan menjemput Hyemin terlebih dahulu.
“Sebentar!” teriak Hyemin dari dalam. Suara Hyemin cukup membuat Luhan melupakan sakit kepalanya.
Hyemin ahirnya keluar dengan mengenakan kaus ungu lengan panjang dengan syal biru muda dilehernya, celana jeans dan sepasang sepatu furry yang senada dengan kausnya. Saat itu memang sedang musim dingin, salju saat itu sedang tebal.

Luhan mulai melaju motornya saat Hyemin sudah duduk di jok belakang. Sambil memeluk erat Luhan, Hyemin memperhatikan butiran salju yang turun.
“Saljunya gak berenti turun ya” ucap Hyemin sambil menadahkan satu jari dihadapannya.
“Iya” jawab Luhan singkat.
“Aku harap persahabatan kita kayak gini ya, gak berenti karena apapun” Luhan tersenyum mendengar ucapan Hyemin. Seiring dengan itu, Hyemin semakin mempererat dekapan pada punggung sahabatnya itu.

***

Luhan baru akan membalikkan tubuhnya tiba-tiba ia menabrak seorang dosen.
“Jweisonghamnida” ucap Luhan refleks sambil membungkukkan badan. Dosen yang ternyata pengajar bidang seni lukis—jurusan Luhan—justru tersenyum menatap Luhan.
“Xi Luhan? Benar?” Tanya Park Sunbaenim
“Ne” jawab Luhan bingung
“Hm, lukisanmu terbeli tiga ratus tibu won dipameran kemarin. Ini.” ucap lelaki umur lima puluhan itu sambil tersenyum dan memberikan amplop tebal pada Luhan.
“Woah! Jeongmal kamsahamnida sunbaenim!” pekik Luhan namun berusaha sopan. Dosen itu menepuk bangga pundak Luhan sambil tersenyum melihat reaksi murid ajarannya itu, kemudian ia meninggalkan Luhan yang masih berbinar menatap amplopnya.

Tiba-tiba seorang namja menepuk pundak Luhan yang membuat sipemilik pundak menoleh. Didapatkannya Sehun sedang menatapnya ragu.
“Annyeong sunbaenim” sapa Sehun sopan. Sehun memang merupakan adik kelas Luhan—seperti Hyemin.
“Oh. Annyeong” balas Luhan.
“Um, maaf aku menguping pembicaraan hyung dengan Park Sunbaenim. Tapi aku dengar lukisan hyung terjual mahal” jelas Sehun yang dibalas anggukan singkat Luhan.
“Hyung! Bantu aku melukis! Kumohon” pinta Sehun dengan menunjukkan puppy eyes nya yang membuat Luhan terkekeh.
“Ah, iya iya. Kalau ada waktu senggang aku akan memanggilmu” Sehun tersenyum lebar mendengar jawaban Luhan.
“JEONGMAL GOMAWO HYUUNG!!” pekik Sehun sambil mencium pipi kiri Luhan.
“Ya! Kau apa-apaan” Tolak Luhan tertawa. Sehun menunjukkan dua jarinya.
“Peace. Annyeooong. Sampai nanti hyung~” lambai Sehun sambil meninggalkan Luhan dengan perasaan senang.

***

Hyemin yang mengambil jurusan musik terduduk malas karena kelasnya sudah usai sedangkan kelas selanjutnya masih satu jam lagi. Karena bosan, Hyemin memilih untuk menghampiri kelas Luhan diam-diam.

Hyemin sedikit tersentak melihat keadaan kelas Luhan yang kosong, hanya ada dua orang namja yang berkutat didepan sebuah papan kanvas. Ya, Luhan dan Sehun sedang melukis.
“Sejak kapan Luhan dekat dengan Sehun?” batin Hyemin.
“Luhan-a?” Panggil Hyemin sambil menengok ragu. Luhan termasuk Sehun menoleh pada sumber suara itu.
“Ah, annyeong Hyemin-a” sapa Luhan tersenyum. Hyemin tidak melepaskan pandangan dari Sehun.
“Em, ini Sehun, dia seangkatan denganmu, hanya saja dia jurusan seni lukis. Dan aku sedang membantunya sedikit” jelas Luhan. Sehun tersenyum dan menjulurkan tangannya.
“Sehun”
“Hyemin”
Ekspresi Hyemin berubah menahan senyum girang. Luhan tau sahabatnya itu senang sekali bisa berjabat tangan dengan Sehun, sedangkan Sehun sendiri tidak tahu apa-apa dan hanya melanjutkan lukisannya.

Hyemin melirik sedikit lukisan Sehun. Luhan tersenyum simpul dan meninggalkan ruangan.
Hyemin menahan tangan Luhan dan memberi tatapan “mau kemana?”. Yang ditahan sendiri hanya menggeleng dan mengedipkann sebelah matanya. Sehun menoleh dan tidak mendapatkan Luhan dimanapun.
“Mana Luhan?” tanya Sehun menatap Hyemin membuat yeoja itu terpaku.
“Keluar sebentar” jawab Hyemin ahirnya setelah mengerjap beberapa saat. Sehun hanya mengangguk dan kembali meneruskan lukisannya.

“Lukisannya bagus” komentar Hyemin spontan. Sehun menoleh sambil menaikkan alisnya menatap Hyemin.
“Kamsahamnida” jawabnya tersenyum. Hyemin seakan melayang melihat senyuman yang dilemparkan Sehun.
Sehun tiba-tiba menepuk kursi sebelahnya sambil menatap Hyemin.
“duduk aja. Pegel berdiri terus” tawar Sehun. Hyemin duduk dikursi dengan tenang. Berusaha tenang lebih tepatnya. Detak jantungnya tidak beraturan berada didekan Sehun.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sehun setelah memberikan sentuhan terahirnya. Hyemin menatap hasil lukisan Sehun tidak percaya. Terdapat gambar sebuah sunset yang seperti foto.
“Bagus banget” komentar Hyemin jujur. Sehun tersenyum. Tapi tiba-tiba senyumannya hilang melihat wajah Hyemin.
“Kamu sakit?” Tanyanya polos sambil menyentuh pipi Hyemin yang memerah. Hyemin sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Luhan memasuki kelas dan menatap tidak percaya.
“Whoops. Mian ganggu.” Ucapnya sambil nyengir dan mengambil tasnya untuk segera kekelas selanjutnya. Sehun yang tadinya masih bingung dengan kata-kata Luhan, langsung melepas tangannya dan tersenyum canggung pada Hyemin. Hyemin yang tidak kalah canggung memutuskan mohon diri untuk kembali kekelasnya.

***

Hyemin membanting tubuhnya dikasur. Pipinya memerah mengingat kejadian tadi siang. Wajahnya berseri. Apalagi dengan Luhan yang memberikan nomor telfon Sehun padanya. Hyemin menatap layar ponselnya yang menampilkan sederet angka dengan nama ‘Sehun’ diatasnya. Ia menimbang-nimbang.

Hyemin menekan tombol hijau yang menimbulkan nada panggilan. Hyemin tiba-tiba menyesal memutuskan untuk menelfon Sehun. Ia sendiri tidak tahu ingin membicarakan apa.
“Yeoboseyo” sapa namja disebrang telfon
“Sehun-a....”

***

Hyemin semakin lama semakin akrab dengan Sehun. Pertama kali ia menelfon, Hyemin hanya memberitahu Sehun untuk menyimpan nomornya karena tidak tahu ingin berkata apa lagi. Sehun saat itu hanya tertawa dan menuruti perintah Hyemin.
Tanpa disadari, Hyemin menghubungi Sehun hampir setiap malam, bahkan sekarang Sehun bisa menelfon Hyemin lebih dulu tanpa diminta. Bahkan sepulang dari kampus, Hyemin lebih sering diantar dengan mobil oleh Sehun.
Luhan sendiri hanya ikut tersenyum melihat kedua sahabatnya yang ahir bulan-bulan ini semakin akrab. Ya, Luhan hanya tersenyum

***

Luhan sedang duduk dikursi dibawah pohon sambil membolak balik bukunya tanpa tahu apa yang sedang dibacanya. Sehun menepuk pundaknya yang membuatnya menoleh.
“Halo hyung” Sapa Sehun dengan Hyemin yang membuntutinya. Luhan tersenyum menatap keduanya. Ia kembali membolak-balik halaman bukunya.

“Hyung kau tau? Kami....” Sehun tidak melanjutkan kalimatnya untuk melihat reaksi Luhan. Luhan yang merasa diperhatikan Sehun dan Hyemin mendongak bingung.
“Hyung, she is now my girlfriend” jelas Sehun dengan mata berbinar. Luhan membelalakan matanya tidak percaya. Hyemin sendiri hanya tersenyum menahan girangnya.
“Just now. Ehehe.” Lanjut Sehun canggung.
“Jinjja? Chukkae!” ucap Luhan tersenyum. Sehun dan Hyemin ikut tersenyum melihat reaksi Luhan.

Tiba-tiba senyum Hyemin memudar disusul senyuman Sehun yang ikut menghilang.
“Luhan-a! Hidungmu kenapa?” tanya Hyemin kaget. Luhan meraba hidungnya dan langsung berlari ke toilet.

Luhan langsung membersihkan hidungnya ketika sampai didepan wastafel. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba ia mimisan. Luhan memperhatikan wajahnya yang pucat dicermin. Darah masih berbekas disekitar hidungnya. Terlihat sangat menyedihkan. Tiba-tiba air matanya mengalir tanpa sebab. Luhan membenamkan wajahnya dilipatan tangannya. Ia bersyukur saat itu tidak ada orang lain selain dirinya ditoilet.

Luhan melirik jam ditangannya. Pukul enam sore. Sudah waktunya pulang. Mungkin hari itu Luhan hanya kelelahan. Ia segera menutupi hidungnya dengan lipatan tisu dan keluar toilet seolah tidak terjadi apa-apa.

***

Luhan terbaring diatas kasurnya. Pandangannya terfokus pada langit-langit kamarnya, sedangkan pikirannya melayang kemana-mana. Entah perasaan apa yang selama ini mengganggunya.

Luhan merasa senang bersama Hyemin. Ketika Hyemin pertama bercerita tentang Sehun, Luhan merasa seperti kehilangan sebagian dirinya. Luhan tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum ketika Hyemin semakin akrab dengan Sehun. Ketika Sehun mengatakan kini ia menjadi kekasih Hyemin, ia merasa sedikit kecewa. Tapi melihat kebahagiaan keduanya, Luhan justru mendukung hubungan keduanya, bahkan ia berniat untuk membantu hubungan keduanya ketika sedang dalam masalah.

Luhan kemudian sadar.
Ia jatuh cinta.

***

Luhan duduk ditempat kemarin ia mendapatkan berita mengagetkan dari Sehun dan Hyemin. Ia memasang headset dan mendengarkan lagu dari ipodnya. Hyemin menepuk pundaknya membuat Luhan menoleh kaget. Hyemin tertawa kecil melihat reaksi Luhan. Diam-diam Luhan merasa dadanya berdesir—namun sedikit sakit hati dirasakannya.

“Luhan-a~ Sendiri aja” Sapanya ceria. Luhan hanya tersenyum dan menyimpan ipodnya kedalam tas.
“Mana yeobomu itu?” Canda Luhan
“Masih memarkirkan mobilnya. Sebentar lagi juga kesini” Jawab Hyemin lempeng. Luhan sedikit kaget, ia kira Hyemin akan menegelak ketika ia mengganti nama ‘Sehun’ dengan istilah ‘Yeobo’.

Kecanggungan menyeruak. Tidak biasanya Luhan dan Hyemin merasa canggung satu sama lain.
“Luhan...” panggil Hyemin setelah terdiam
“Iya?” ucap Luhan melirik Hyemin
“Menurut kamu, cinta itu apa?” tanya Hyemin membuat Luhan berdehem
“Aku sendiri belum paham” jawabnya. Hyemin hanya menghembuskan nafas. Sehun datang sambil masih mengenggam kunci mobilnya.
“Annyeong hyung” sapanya ramah. Luhan tersenyum. Sehun menarik tangan Hyemin.
“Kita duluan ya” ucap Sehun sambil meninggalkan Luhan.

Seiring perginya Sehun dan Hyemin, Luhan tiba-tiba merasa mual yang teramat sangat. Luhan langsung berlari menuju toilet tanpa peduli ia menabrak orang-orang didepannya. Ia terbatuk saat sampai didepan wastafel. Luhan menutup mulutnya dengan tangan sambil masih terbatuk. Ia menatap nanar telapak tangannya.
Darah.
Tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.

***

Luhan membuka matanya perlahan dan tidak mengenali tempat sekelilingnya. Ia sudah terbaring disebuah kasur. Ia tidak ingat kapan ia kesini. Yang ia ingat terahir hanyalah Sehun dan Hyemin yang berjalan meninggalkannya, dan darah yang memenuhi telapak tangannya.

Samar-samar terdengar tangisan seorang wanita dari luar ruangan.
“Leukimia. Kecil kemungkinan untuk disembuhkan” ucap seorang laki-laki yang suaranya tidak dikenal Luhan.
“Leukimia? Siapa yang leukimia?” Batin Luhan.
Pintu ruang inap Luhan terbuka. Didapatkannya kedua orangtuanya masuk dengan mata sembab.

Siyue—umma Luhan—memeluk tubuh anak semata wayangnya itu.
“Maaf, umma sama abeoji kurang kasih perhatian” ucapnya sambil masih menangis.
“Umma, kenapa?” Tanya Luhan heran.
“Gapapa kok, Luhan pasti sehat” timpal Hyeojin—ayah Luhan.
“Emang Luhan sakit?” Tanya Luhan semakin bingung. Siyue yang tidak bisa membendung air matanya hanya bisa membalikkan badannya, begitu pula Hyeojin.
“Ya! Kenapa jadi cuekin Luhan gini!” pekik Luhan tanpa sadar menggunakan bahasa informal.
“Leukimia” ucap Hyeojin pelan namun terdengar Luhan.
“Kamu janji kan mau usaha buat sembuh?” Tanya Hyeojin sambil menghampiri anaknya itu dengan wajah penuh harap. Luhan hanya menunduk menahan tangis. Ia belum bisa menerima kenyataan. Ia belum siap.

***

Hyemin berusaha mecari seseorang diantara ramainya mahasiswa yang keluar dari kelas seni lukis. Sehun yang berdiri disampingnya ikut mencari orang itu. Namun hingga kelas kosong, hasilnya nihil. Orang yang dimaksud tidak muncul.

Sudah hampir dua minggu Hyemin tidak melihat Luhan. Hyemin sudah mencoba untuk menghubungi nomor telfon Luhan, tapi ternyata tidak aktif. Hyemin bahkan sudah mencoba datang kerumah Luhan, tapi rumahnya sepi. Sehun sendiri tidak kalah khawatir.

Hingga ahirnya, umma Hyemin menelfonnya.
“Yeoboseyo” sapa Hyemin
“Hyemin-a, ke minimarket dulu sebentar, bumbu didapur habis. Minta antar pacarmu itu saja” perintah suara disebrang telfon.
“Ah. Ne umma” jawab Hyemin yang dibalas nada putus.

“Wae? Nugu?” Tanya Sehun yang sedaritadi berada disebelahnya.
“Bisa kita ke minimarket sebentar kan? Ummaku suruh beli bumbu dapur” pinta Hyemin
“Ahaha, ne ne. Ayo masuk” Angguk Sehun dan membukakan pintu mobil untuk Hyemin.

***

Hyemin sedang memilih bumbu dapur dengan Sehun yang selalu menemaninya. Tanpa sengaja tatapanya jatuh pada seorang wanita umur empat puluh tahunan yang memakai baju kerja. Wanita itu sedang mengambil beberapa plastik roti. Terlihat wajahnya yang pucat seperti kelelahan. Hyemin terperanjat melihat wajah wanita itu. Umma Luhan.

Hyemin langsung melangkah cepat menghampiri wanita itu tanpa memperdulikan Sehun yang menatapnya bingung dibelakang.
“Annyeong ahjumma” sapa Hyemin membuat umma Luhan menoleh
“Oh Hyemin. Ada apa?” tanyanya berusaha terlihat senang
“Ahjumma, Luhan kemana aja selama ini?” tanya Hyemin membuat wanita kurus itu mengerjap sesaat
“Hanya istirahat”
“Ahjumma, istirahat saja tidak mungkin sampai dua minggu. Luhan kenapa?” desak Hyemin membuat umma Luhan tertunduk. Sehun sendiri yang baru sampai hanya bisa menatap keduanya bingung. Hyemin yang melihat perubahan ekspresi umma Luhan merasa ada yang tidak beres
“Leukimia” jawab umma Luhan singkat. Wajah Hyemin dan Sehun pucat.
“M...mwo?” tanya Sehun tidak percaya
“Permisi” pinta umma Luhan langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan Hyemin dan Sehun.

***
Tiga bulan sudah berlalu dan Hyemin maupun Sehun belum melihat Luhan masuk ke kampus. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan Luhan sekarang. Atau dimana Luhan dirawat. Yang mereka tahu, hanya Luhan terkena Leukimia. Titik.

Hyemin sangat merindukamn sahabatnya itu. Ia rindu dengan senyuman Luhan. Perhatian Luhan. Suara tawa Luhan. Dan tentu saja, ia rindu merangkul Luhan saat berangkat kekampus. Ia merindukan segalanya tentang Luhan. Tanpa sadar air matanya menetes.

Sehun yang melihat cairan bening itu mengalir dipipi Hyemin langsung mengusapnya. Hyemin dan Sehun saat itu sedang duduk diruang tamu rumah Hyemin, berharap mendengar suara pagar rumah Luhan yang menandakan kepulangan Luhan.

Tiba-tiba, Hyemin dan Sehun mendengar suara pagar rumah Luhan yang terbuka. Keduanya melirik jendela antusias. Tapi ternyata hanya appa Luhan yang mengambil setumpuk baju yang bisa dipastikan bahwa itu adalah baju Luhan. Kesimpulan yang bisa Hyemin dan Sehun tarik saat itu: Luhan menginap disuatu tempat.
Merasa penasaran, keduanya memutuskan untuk mengikuti mobil appa Luhan secara diam-diam.

***

Hyeojin baru saja sampai di rumah sakit. Tempat tinggalnya selama tiga bulan terahir. Hyeojin mengambil beberapa baju Luhan—anaknya—karena yang awal dibawa kerumah sakit ternyata kurang.

Hyeojin sama sekali tidak menyangka ia akan tinggal di rumah sakit selama ini. Selama ini Hyeojin langsung ke rumah sakit setelah bekerja. Ia tidak menyangka anak semata wayangnya terkena penyakit berat. Hyeojin belum siap kehilangan anak satu-satunya itu. Namun dengan Luhan yang justru menjalani tanpa air mata, membuat ketakutan Hyeojin sedikit terobati.

Hyeojin kaget ketika melihat ke arah dua orang yang berjalan dibelakangnya. Hyemin dan Sehun.
“Kami mau bertemu Luhan” jelas Hyemin tanpa diminta
“Darimana kalian tahu Luhan disini?” Tanya Hyeojin masih tidak percaya. Padahal ia dan istrinya sudah sebisa mungkin menyembunyikan keadaan Luhan dari teman-teman kampus Luhan, terutama Hyemin dan Sehun. Seperti permintaan Luhan.
“Stalking” jawab Sehun singkat. Hyeojin hanya bisa menghela nafas menyerah. Ia ahirnya mengisyaratkan pada Hyemin dan Sehun untuk mengikutinya.

***

Luhan mengerjap beberapa saat ketika melihat pintu kamarnya terbuka. Bukan hanya appanya yang masuk, tapi Hyemin dan Sehun, kedua sahabatnya yang sudah sangat ia rindukan. Meskipun berharap mereka tidak mengetahui tentang keadaannya, tapi tetap saja Luhan tidak bisa menahan rasa rindunya.

“Hey kalian” sapa Luhan berusaha terlihat semangat. Namun dirinya yang lemah tidak bisa dibohongi. Melihat wajah Luhan yang sangat pucat dan rambut Luhan yang berserakan membuat Hyemin bersusah payah menahan air matanya.
“Annyeong hyung. Bagaimana kondisimu?” sapa Sehun memaksa terlihat biasa saja
“Gak gimana-gimana kok hehe”
“Hyung, kenapa susah banget dihubungin sih? Handphone hyung kemana?”
“Gak kemana-mana kok” jawab Luhan sambil melihat meja disampingnya. Sehun mengikuti arah pandang Luhan dan menemukan handphone Luhan dalam keadaan mati. Ia yakin handphone itu sudah dimatikan selama tiga bulan ini.

“Hyung, kau tahu? Aku dan Hyemin sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa gak bilang aja sih kalo hyung sakit? Kita kan jadi bisa jenguk. Bisa ketemu terus. Bisa tahu perkembangan kesehatan hyung. Karena malu rambut hyung udah mau abis? Kita gapeduli hyung sama yang begitu. Mau hyung jadi sejelek apapun kita tetep bakal sayang sama hyung” jelas Sehun panjang lebar membuat Hyemin melirik Luhan sungguh-sungguh. Mata Luhan mulai basah mendengar kata-kata Sehun.

Luhan tiba-tiba merasa sesak. Nafasnya tersenggal. Cairan merah perlahan keluar dari hidungnya.  Siyue langsung memencet tombol untuk memanggil dokter. Dengan cepat juga seorang dokter dengan beberapa perawat mendorong kasur Luhan keluar ruangan.
“Luhan harus segera dioperasi. Anda bersedia?” tanya Dokter yang sudah menangani penyakit Luhan selama tiga bulan. Pertanyaan dokter itu diberi anggukan oleh kedua orang tua Luhan. Hyemin dan Sehun masih mengerjap tidak percaya.

**1 tahun kemudian**
Operasi Luhan satu tahun lalu berhasil, namun karena sel kanker yang sudah menyebar ke bagian tubuh lain, nyawa Luhan tidak tertolong.

Hari jumat. Hari pemakaman Luhan. Siyue—umma Luhan masih menangis disamping peti, sangat terlihat bahwa ia terpukul. Sehun dan Hyemin sendiri lebih memilih duduk dikursi paling belakang. Mereka masih tidak percaya Luhan pergi secepat itu. Hyemin tertunduk menangis, sementara Sehun merangkul menenangkannya.

Tiba-tiba Hyeojin—appa Luhan—menepuk pundak Sehun. Si pemilik pundak maupun orang disebelahnya menoleh. Hyeojin memberikan sebuah amplop pada Sehun.
“Ini yang terahir dari Luhan” ucap Hyeojin sambil berlalu pergi.

Sehun membaca tulisan dibelakang amplop itu
“Untuk Hyemin dan Sehun ”
Sehun tersenyum samar dan mulai membuka kertas didalamnya. Hyemin ikut mendekatkan kepalanya untuk ikut membaca.

Annyeong Sehun-a. Annyeong Hyemin-a.
Bagaimana keadaan kalian? Sehat kah? Kalau kubilang, harus sehat ya. Sakit itu tidak enak haha.
Aku yakin, aku sudah tidak ada saat kalian membaca surat ini. Ya, aku terjangkit Leukimia. Kanker darah. Awalnya aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku hanya bisa menangis menerima penyakit mematikan itu. Tapi lama kelamaan, aku mulai biasa.Toh semua orang juga akan pergi, hanya beda cara saja.


Kalian tahu? Aku merasa sangat beruntung bertemu dengan kalian. Kalian sudah seperti saeng-ku sendiri, melengkapiku yang sangat menginginkan seorang saudara. Aku sangat berterimakasih.


Awal aku bertemu dengan Hyemin, waktu kami masih sangat kecil. Saat itu aku baru saja pindah ke Korea dari China. Aku tidak memiliki teman. Mereka memandangku sebelah mata karena namaku aneh. (tapi menurutku namaku bagus, dan aku bersyukur akan itu hehe). Dan saat itu, hanya Hyemin yang menjadi temanku. Hingga ahirnya kami tumbuh dewasa.


Waktu itu, pulang kampus Hyemin bilang kalau dia baru naksir seorang namja, yaitu kamu, Sehun. Aku sendiri hanya bisa mendukung. Kebetulan sekali saat itu kau memintaku untuk belajar melukis yang secara tidak langsung membantu kedekatan kalian.


Jujur, awalnya aku cemburu dengan kedekatan kalian. Aku sendiri tidak mengerti. Setelah aku pikir, aku sadar. Aku jatuh cinta. Iya. Aku mencintaimu, Hyemin-a.
Aku sangat cemburu, terlebih saat kau lebih memutuskan untuk pulang dan pergi bersama Sehun. Aku tahu dia memakai mobil, sedangkan aku hanya mengendarai motor. Namun aku sadar, kalian memang sedang saling jatuh cinta. Aku tidak bisa apa-apa selain mendukung kalian.


Saat itu, keegoisanku mulai berkurang. Aku merelakan kau dengan Sehun. Aku mendukung kalian. Meskipun sungguh itu terasa sangat sakit, aku melakukannya demi hubungan kalian berdua. 


Hingga ahirnya kalian benar-benar menjadi sepasang kekasih. Aku merasa perih. Tapi aku senang melihatmu senang, meskipun tanpa aku. Hingga ahirnya penyakit itu datang, membuatku semakin berterimakasih akan hubungan kalian. Aku tidak bisa membayangkan jika saat itu keegoisanku untuk memiliki Hyemin masih tinggi haha.
Ah, jangan sampai hubungan kalian berahir ya. Kalau sampai hubungan kalian berahir, aku akan sangat kecewa. Aku sudah susah payah mendukung kalian. Kalian tidak mau lukaku jadi bekas begitu saja tanpa arti kan? Hehe.


Jadi, kuucapkan banyak terima kasih pada kalian. Aku sangat beruntung kenal dengan kalian. Kuharap kalian tidak menyesal kenal denganku hehe. Maaf aku harus pergi. Jangan lupakan aku ya^^
Annyeong~


Ps. Hyemin-a, kau pernah bertanya kan padaku “cinta itu apa?”, aku baru sadar. Cinta itu ketika kamu bahagia melihat dia bahagia, meskipun tidak bersamamu, dan kamu akan melakukan berbagai cara untuk tidak menghilangkan kebahagiannya meskipun kadang itu terasa sakit. Cinta itu bukan memiliki. Cinta itu merelakan
-Xi Luhan-

Sehun meneteskan air mata setelah membaca surat terahir Luhan. Ia merasa bersalah merebut Hyemin dari Luhan. Tapi ia sangat bersyukur dengan sikap Luhan yang dewasa. Sehun melipat kembali kertas ditangannya dan menaruh rapi dikantongnya. Ia melirik Hyemin yang sedang menutup wajahnya menangis. Hyemin juga tidak percaya dengan pengakuan Luhan didalam surat itu. Sehun merangkul Hyemin untuk menenangkan wanita itu, meskipun dia sendiri masih merasa bersalah.

Sehun dan Hyemin memilih pulang lebih awal setelah Luhan dimakamkan. Mereka bertekad untuk tidak mengecewakan Luhan. Untuk terus mempertahankan hubungannya. Surat Luhan tidak akan mereka buang. Mereka biarkan surat itu menjadi kenangan terahir. Mereka tidak mau melupakan sesosok Luhan yang rela mendukung hubungan keduanya meskipun harus melukai hatinya sendiri.

Cinta itu bukan memiliki. Cinta itu merelakan.

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar