Sabtu, 21 April 2012

[FF] Oh! My Boss! (Part 1)


Author: Riri
Cast: -Song GaEun
-Hwang ChanSung
-Kim SungGyu
-Jung JiHwa
-Kim EunJoo
Genre: Romance
***
HUAHAHAHAHAHAHA!!! Ahirnya selesai juga ff saya yang ke....*ngitung* TIGA!! Author koplak ini ahirnya menyelesaikan tiga ff pemirsah!
WARNING!! Ff ini romance, yeoja-namja, abal, gajelas, aneh, lalala. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, banyak typo, aneh, bertele-tele, atau apaan kek, mianhae ya, muehehehe Author baru (/o\)
Ok daripada pengantar gue jadi lebih panjang dari ff nya-_-, saya ucapkan terimakasih udah mau baca. Jeongmal kamsahabnida pada pembaca-pembaca setia saya (kalo ada) :'D
Selamat membaca^^ Enjoy~

***

Hhhh.
Gaeun menghela nafasnya berat. Kakinya kini menopang tubuhnya didepan gerbang kantor barunya. Hari itu adalah hari pertamanya bekerja setelah ia melamar satu minggu sebelumnya. Seharusnya ia merasa senang dan berjingkrak memasuki kantornya, tapi jantungnya justru berdebar.
SEOUL NEWS.
Gaeun membaca tulisan yang terpampang besar didepan gedung kantor yang merupakan perusahaan percetakan koran.
Gaeun kemudian melirik jam ditangannya yang menunjukan pukul 8.30. Ternyata ia setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Untuk membunuh waktu, Gaeun memilih duduk bersantai dikantin gedung tersebut.
Di kantin, Gaeun duduk sambil membawa segelas cappuccino ditangannya. Gaeun meneguk cappuccino nya perlahan sambil memperhatikan kantin itu. Kantin yang bersih, luas, tempat duduk yang nyaman, dan makanan minuman yang menggoda lidah. Bahkan menurut Gaeun makanan minuman itu bisa diliput dalam acara kuliner.
Awalnya Gaeun mengira akan mendapatkan kantin dengan ruangan terbuka, banyak lalat, kotor, dan kualitas makanan yang seadanya. Ternyata semua terbalik dari perkiraan Gaeun.
Gaeun masih menyapukan pandangan ke setiap penjuru kantin ketika seorang yeoja yang cukup tinggi membeli beberapa makanan ringan. Yeoja itu mengenakan kaus abu-abu tua yang dibalut jaket hitam, celana jeans berwarna gelap yang agak kebesaran, sepatu hitam yang biasa para dancer gunakan, dan kacamata yang membingkai tatapan tajamnya. Ditambah lagi dengan rambutnya yang dibiarkan terurai. Daripada karyawati, yeoja itu lebih mirip malaikat pencabut nyawa.
Merasa diperhatikan, yeoja itu menoleh pada Gaeun yang langsung mengalihkan pandangan kearah gelas cappuccino didepannya. Seperginya yeoja tersebut, Gaeun merasa sedikit lega. Ditatap oleh tatapan tajam yeoja itu terasa seperti sedang berhadapan dengan seekor singa yang siap menyergap mangsanya. Gaeun berharap tidak satu lantai dengan yeoja itu.

Merasa bosan, Gaeun mengeluarkan hpnya. Dilihatnya foto yang ia pajang sebagai wallpaper. Kim Sunggyu. Tanpa sadar, Gaeun menarik sudut bibirnya.
Sunggyu adalah seorang namja ramah, berwajah polos, dan berhati lembut yang merupakan mantan kekasih Gaeun. Mereka menjalin hubungan saat SMA hingga ahirnya Sunggyu memutuskan untuk berpisah dengan alasan tujuan universitas mereka yang berbeda. Sunggyu juga sempat berpesan pada Gaeun, “If we ever meet again, we’ll continue our relationship”. Dan hanya seperti itu lah kata-kata terahir Sunggyu yang dikatakan pada Gaeun.
Sejak saat itu, Gaeun hanya dapat meratapi hatinya yang terasa sakit. Otaknya mungkin sudah melupakan memori bersama Sunggyu, namun hatinya tidak mengijinkan. Sejak lulus SMA, Gaeun dan Sunggyu tidak pernah berhubungan lagi. Mereka benar-benar lost contact. Entah dimana Sunggyu sekarang, Gaeun tidak pernah tau lagi. Tapi hatinya tetap menunggu Sunggyu.
Tidak terasa setengah jam sudah berlalu. Gaeun memutuskan untuk segera memasuki gedung kantor untuk menemui bossnya.
Saat Gaeun baru saja keluar lift, tiba-tiba seorang yeoja menghalangi pandangannya dan...Pyaar.
Cappuccino ditangan Gaeun sukses meluncur bebas mengotori baju yeoja didepannya itu. Tatapannya jatuh ke kaus yeoja itu. Merasa familier dengan kaus itu, Gaeun mencoba untuk mengingat. Ternyata kaus seorang yeoja yang ia lihat dikantin. Gaeun mendongak dan mendapatkan yeoja tersebut sedang menatapnya tajam.
“Mianhae” Gaeun berkata dengan hati-hati, takut yeoja-dengan-penampilan-malaikat-pencabut-nyawa didepannya ini benar-benar mencabut nyawanya. Atau yeoja itu akan melayangkan kapak besarnya kearah Gaeun, seperti yang sering ia lihat pada karakter pencabut nyawa di kartun-kartun.
Tanpa diduga yeoja itu hanya menghela nafas.
“Gwaechana” ucapnya sambil pergi meninggalkan Gaeun yang menghembuskan nafas lega. Setelah yeoja itu hilang dari pandangannya, Gaeun membuang gelas cappuccinonya yang sudah kosong dan melanjutkan melangkahkan kakinya menuju ruang bossnya.
Beru beberapa meter ia melangkah, tiba-tiba ia menabrak seorang namja.
“bisa bisa aku menabrak semua orang dikantor ini” batin Gaeun. Ia mendongak dan tidak mempercayai pandangannya.
Namja didepannya itu menatapnya tak kalah kaget. Namja yang Gaeun kenal. Namja yang fotonya ia pajang sebagai wallpaper. Ya, Kim Sunggyu, mantan kekasihnya.
“Kau?!” Teriak Gaeun. Ia tidak tau harus merasa senang atau justru kesal karena Sunggyu telah meninggalkannya. Tapi ternyata perasaan senang Gaeun menang. Senyuman  tersungging dibibirnya.
“hh, minggir” ketus Sunggyu langsung melangkah pergi. Apa? Ada apa dengan Sunggyu yang dulu? Gaeun bertanya dalam hati. Ia menyesal telah memilih untuk senang.
Saat Gaeun akan melangkah pergi, tiba-tiba Sunggyu memanggilnya.
“Eh, kau mau menemui bossmu ya?” Tanya Sunggyu.
“Iya”
“Kau sudah pernah lihat dia sebelumnya?”
“Um... Belum. Kemarin aku di-interview oleh asistennya”
“Oh, kalau begitu ayo ikut aku”

Gaeun hanya mengikuti Sunggyu tanpa banyak bicara. Langkahnya besar-besar sehingga Gaeun agak sulit untuk mengikutinya dengan berjalan biasa. Dari belakang, Sunggyu terlihat sangat tinggi. Punggungnya terlihat menopang tubuhnya tegap, sangat berbeda dengan saat ia masih SMA. Sunggyu yang sekarang terlihat sangat keren. Gaeun hampir tidak bisa percaya, setelah 5 tahun tidak bertemu, ia ahirnya dipertemukan dengan cara seperti ini. Gaeun merasa senang. Perasaannya semakin membludak. Penantiannya akan segera berahir. Tanpa sadar, wajahnya memerah.
Sunggyu ternyata membawa Gaeun ke ruangannya. Belum Sunggyu menjelaskan apa-apa, pikiran buruk sudah bermunculan dibenak Gaeun. Pikiran tentang Sunggyu akan membius Gaeun kemudian akan menelfon keluarganya untuk meminta tebusan, atau Sunggyu akan mengeluarkan sebuah pistol dan menembak mati Gaeun membuat Gaeun ngeri. Tapi ternyata ia terlalu banyak menonton drama.

Sunggyu mempersilakan Gaeun duduk. Tanpa basa basi, Gaeun mengambil kue yang ada dimeja Sunggyu. Sunggyu hanya menatapnya datar.
“Jadi, dimana bossku?” Tanya Gaeun. Ia kemudian meminum air yang ada dimeja Sunggyu.
“dia didepanmu” jawab Sunggyu datar yang disambut dengan semburan air dari mulut Gaeun. Wajah Sunggyu berlumur air.
“mi...mianhae” Gaeun terbata. Sunggyu hanya mengelap wajahnya dengan sapu tangan dan menatap Gaeun tanpa ekspresi, yang malah membuat Gaeun semakin ketakutan. Bayangan Sunggyu menendangnya keluar dari gedung muncul dibenaknya. Gaeun buru-buru menghapus bayangan itu.

“Jadi begini....” ucap Sunggyu membuat Gaeun kembali fokus.
“Kerjaanmu disini sebagai sekertarisku kan. Kau hanya perlu mengangkat setiap telfon yang menghubungiku, mengantarkan surat padaku, mengoreksi beberapa artikel, dan mengatur jamku, seperti mengatur jam kerjaku, atau kapan aku sebaiknya makan, pokoknya segala kegiatanku dikantor. Anggap saja kau ini manager, dan aku artisnya” jelas Sunggyu yang dibalas anggukan Gaeun paham. Gaeun baru saja akan pergi dari ruangan Sunggyu ketika tiba-tiba Sunggyu menahan tangan Gaeun.
“Besok pakailah baju yang lebih formal ya” Ucapnya tersenyum. Senyuman yang sudah ia rindukan selama tiga tahun ini. Gaeun hanya mengangguk dan keluar ruangan Sunggyu. Tiba-tiba ia baru menyadari kalau ia hanya mengenakan kemeja putih kebesaran dan celana jeans, sementara beberapa karyawati yang lewat mengenakan baju-baju kantor formal yang rapih.
Gaeun terduduk di kursinya. Tatapannya jatuh kesebuah kursi dengan seorang karyawati duduk diatasnya. “oh tidak........yeoja itu...” gumam Gaeun. Merasa diperhatikan, yeoja itu menengok. Gaeun langsung menunduk berpura-pura sibuk dengan komputernya yang belum menyala. Untuk satu hari itu saja ia sudah bertemu dua kali dengan yeoja menyeramkan itu, dan untuk pertemuan ketiga, Gaeun harus menerima bahwa ia satu lantai dengan yeoja tersebut.
Gaeun baru akan menyalakan komputernya ketika seorang namja memukul mejanya dengan sebuah kertas. Gaeun mendongak.
“Berikan ini pada boss. Katakan ini rancangan format artikel koran minggu depan” ucap namja bersuara berat itu. Gaeun memperhatikan rancangan koran ditangannya, sedangkan namja itu hanya menatapnya datar.
“Cepatlah!” tegur namja itu dengan kasar.
“yaudah sih” ketus Gaeun sambil beranjak menuju ruangan Sunggyu.
Gaeun keluar ruangan setelah melaporkan rancangan koran itu.
“Ia bilang, format ini terlalu penuh untuk halaman awal” lapor Gaeun pada namja yang masih menunggu dimejanya itu. Namja itu hanya mendengus kesal.
“Selalu protes. Boss macam apa dia” ketusnya.
“apa?” tanya Gaeun tidak percaya bahwa baru mendengar seorang bawahan mengejek atasannya.
“ah, molla” ketus namja itu kemudian berlalu pergi. Sekilas, Gaeun melihat nametag pada kemeja namja itu. Hwang ChanSung. Gaeun kemudian menatap punggung namja bernama Chansung itu menjauh.
“Seorang karyawan berwajah lebih tua daripada atasannya” gumam Gaeun menahan tawa kemudian melanjutkan kerjaannya.
Gaeun sudah lima jam duduk menatap komputernya. Pundaknya terasa pegal. Perutnya mendadak kelaparan setelah petugas kantin melewatinya dengan membawakan seporsi ramyun untuk Sunggyu.
Gaeun merogoh kantong celananya untuk mengambil uang. Tapi ternyata hanya tersisa untuk ongkos pulang. Ia terpaksa menunggu hingga waktu pulang.
Saat Gaeun baru akan melanjutkan kembali kerjaannya, seorang yeoja melongo mengintip komputernya. Yeoja yang sudah berkali-kali ia lihat dalam satu hari. Gaeun sedikit terjingkak kebelakang melihat rambut yeoja itu menghalangi layar komputernya. Yeoja itu tiba-tiba mendongak.
“Gak makan?” tanyanya sambil membenahi kacamatanya.
“Belom laper, nanti aja” Kilah Gaeun. Seolah tidak bisa diajak kompromi, perutnya berbunyi menandakan lapar. Yeoja itu hanya menaikkan sudut bibirnya yang membuatnya lebih manis dan jauh dari kesan menakutkan.
“Ayolah” ucap Yeoja itu menarik tangan Gaeun seperti anak sekolahan.
“ng....” Gaeun tidak dapat berkata apa-apa.
“Apa? Uang? Aku yang bayar deh” ucap yeoja itu sambil masih menarik tangan Gaeun.
Sesampai dikantin, Gaeun dan yeoja yang ia kenal dengan nama Jihwan itu mengambil tempat duduk yang agak dekat kejendela. Gaeun memperhatikan gerak-gerik Jihwan. Takut tiba-tiba Jihwan menembakkan racun mematikan kearah lehernya, atau tiba-tiba Jihwan mencekiknya, tapi ternyata Gaeun terlalu banyak menonton film detektif.
Tidak lama, makanan sampai dan Jihwan membayarnya. Perasaannya agak tenang.
“Jadi...kau...eumh....” terlihat raut wajah Jihwan yang mengingat nama Gaeun.
“Gaeun” sahut Gaeun.
“Ah iya Gaeun!!” teriak Jihwan tiba-tiba seperti Isaac Newton yang menemukan gravitasi dan berteriak ‘EUREKA!!!!’. Gaeun sedikit terlonjak dibuatnya.
“Jadi, kenapa kau memilih kerja disini? Berapa umurmu? Berapa tahun kau hidup di universitas?”
Gaeun hanya melongo mendengar pertanyaan dari Jihwan yang diluncurkan sekaligus.
“Entahlah, aku sedang mencari pekerjaan, jadi apapun yang kudapatkan, langsung aku terima. Umurku 23 tahun. Aku menjalani 5 tahun di universitas” jawab Gaeun.
“Benarkah? 5 tahun diuniversitas pasti sangat membosankan ya” Tanya Jihwan sambil masih menyantap bbimbap yang ia pesan.
“ya seperti itu lah, bagaimana dengan mu?”
“aku?” Jihwan mendongakkan kepala dan mengelap mulutnya.
“umurku juga 23. Aku diuniversitas selama 3 tahun, dan aku sudah disini selama 2 tahun” lanjutnya membuat Gaeun ternganga.
3 tahun katanya? 3 tahun adalah waktu tercepat bagi seorang mahasiswa untuk segera melarikan diri dari masa-masa universitas yang membosankan. Dan untuk secepat itu butuh otak semengkilat Albert Enstein. Dan Gaeun tidak percaya Jihwan, biarpun berpenampilan seperti malaikat pencabut nyawa, otaknya tidak bisa diremehkan.
“Ga..eun?” tanya Jihwan menyadarkan Gaeun.
“jurusan apa yang kau ambil dulu?” tanya Gaeun tidak bisa menahan.
“Sastra bahasa Inggris” jawabnya santai. Apa apaan ini? Seorang yeoja titisan Albert Einstein yang mengambil jurusan sastra bahasa inggris kini duduk dihadapannya dikantin sebuah gedung perkantoran perusahaan koran? Padahal Jihwan bisa saja menjadi seorang novelis yang mengeluarkan buku-buku best seller. Pendapat itu berkecamuk dipikiran Gaeun.
Setelah makan siang, Gaeun kembali menyibukkan diri didepan komputernya. Tiba-tiba sebuah tangan menaruh kertas yang sudah tidak asing dimata Gaeun.
“ini berikan pada boss” ucap namja pemilik tangan itu. Hwang Chansung. Gaeun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri ruang kerja Sunggyu.
Tidak lama kemudian Gaeun keluar ruangan Sunggyu.
“Headline ini kurang besar. Buat menjadi benar-benar headline” ucap Gaeun seperti kata-kata Sunggyu. Chansung menghembus nafas kesal.
“ini menyusahkan!” gerutu Chansung sambil menatap Gaeun dengan tatapan ‘hidupmu tidak aman’. Ia kemudian kembali berlalu. Gaeun hanya mencibirnya.
***
Gaeun merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Harinya pertamanya terasa melelahkan. Bertemu dengan mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu yang ternyata malah menjadi bossnya, bertemu dengan yeoja menyeramkan yang otaknya bagai titisan Albert Einstein, dan bertemu namja sedingin Chansung.
Gaeun masih tidak menyangka ia akan bertemu dengan Sunggyu. Namja yang masih ia cintainya itu. Sangat terlihat kini Sunggyu hidup mewah, tapi ia tidak yakin Sunggyu masih membalas perasaannya atau tidak.
Tiba-tiba hpnya berdering. Gaeun lantas langsung mengangkatnya dan mendengar suara Jihwan diujung telfon.
“Tadi aku membereskan dokumen kantor, dan aku tidak sengaja menemukan data mu, ada nomor telfonmu, jadi aku cek deh. Haha. Save nomor telfonku ya” ucap Jihwan dan menutup telfon tanpa memberikan Gaeun kesempatan berbicara. Gaeun hanya tertawa pelan dan menyimpan nomor telfon Jihwan.
Seketika Gaeun merindukan Sunggyu. Ia ingin melihat senyuman Sunggyu lagi. Tertawa bersama Sunggyu lagi....................menjalin hubungan dengan Sunggyu lagi. Hingga ahirnya Gaeun terlelap dengan hati yang merindukan Sunggyu.
*KEESOKAN HARINYA. SUNGGYU’S OFFICE*
Gaeun yang sibuk mengadukan jarinya dengan tombol-tombol keyboard harus menghentikannya sejenak karena telfon kantor dimejanya berdering. “paling tawaran bank atau apa” batin Gaeun.
“Sunggyu’s office” sapa Gaeun dengan suara paling ramah.
“Aku ingin berbicara dengan Sunggyu” ucap yeoja disebrang telfon. Gaeun memasang ekspresi ‘kenapa kau tidak langsung menelfonnya saja?’
“maaf, ini dari siapa?” tanya Gaeun berusaha ramah.
“Aku pacarnya” Sektika tubuh Gaeun terasa melayang entah kemana.
“Oh, baiklah akan saya sambungkan” jawab Gaeun ahirnya. Ia justru merasa seperti petugas operator.
Gaeun menyambungkan telfonnya dengan telfon di ruangan Sunggyu. Samar-samar ia mendengar suara Sunggyu yang sedang bercakap-cakap. Gaeun kemudian menutup telfonnya. Ia menenggelamkan wajahnya diatas meja. Ia tidak percaya, padahal baru hari kedua, tapi ia merasa ingin langsung keluar.

Jihwan yang melihat air muka Gaeun yang berubah setelah mengangkat telfon kemudian menghampiri Gaeun.
“Waeyo?” Tanya Jihwan.
“Hh, ani” jawab Gaeun ahirnya.
“Siapa yang menelfon tadi?”
“Kekasih Sunggyu”
“Ooh, kau menyukai si boss ya?”
Ingin sekali Gaeun menjawab ‘dia mantanku hahaha’, tapi hatinya menahan.
“Ada apa siih?” tanya Jihwan sambil duduk di meja Gaeun. Gaeun hanya diam.
“Biar kutebak, dia mantanmu ya?” tanya Jihwan langsung tepat sasaran. Melihat ekspresi wajah Gaeun yang berubah, Jihwan menepukkan kedua tangannya.
“Wah, tepat sasaran ya” ucapnya tertawa. Gaeun hanya bersandar dikursinya. Jihwan beridiri dan menghela nafasnya.
“Banyak yang lebih baik” Jihwan ahirnya meninggalkan Gaeun.
Sepanjang hari Gaeun terus murung. Penantiannya pupus hanya dalam beberapa menit tadi. Perubahan air mukanya dari pagi cukup mencuri perhatian Chansung. Tapi Chansung tetap berusaha untuk tidak peduli. Sampai ahirnya ketika hari sudah sore, ketika karyawan-karyawan termasuk Sunggyu sudah meninggalkan gedung, Gaeun yang masih terlihat murung belum juga beranjak dari kursi nya, membereskan meja saja belum. Chansung yang juga kebetulan belum pulang ahirnya menghampiri Gaeun dengan perasaan tidak tahan melihat wajah Gaeun yang terus terlipat.
“Ada apaan sih? Cemberut mulu” ketus Chansung dingin.
“Urusanmu?” jawab Gaeun tidak kalah ketus.
“Mengganggu tau tidak?”
“Yaudah sih, gausah diliat” Gaeun memalingkan wajahnya.
“Ish, ditanya baik-baik juga”
“Kayak tadi kamu sebut ‘baik-baik’? Cih, gimana yang kasarnya?”
“Terserah lah. Pulang sana” ketus Chansung sambil mengenakan jaketnya.
“Siapa kamu udah nyuruh nyuruh aku aja” Gaeun membenamkan wajahnya dilipatan tangannya.
“Yaelah sekalut apapun hatimu sekarang ini, kamu gaboleh nginep dikantor” sindir Chansung sambil meninggalkan Gaeun. Mau tidak mau Gaeun ahirnya mengemas barang-barang dimejanya dan beranjak pergi. Seiring dengan kakinya meninggalkan gedung, ia mencoba untuk melupakan Sunggyu.....apabila ia bisa.
***
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu hingga desember ahirnya datang. Bulan dimana salju turun setiap harinya. Turun tanpa henti seperti hati Gaeun yang belum berhenti mencintai Sunggyu.
Dikantor pun, ia sering tiba-tiba menangis dan berusaha untuk menyembunyikannya dengan membenamkan wajahnya diatas meja. Beberapa karyawan mungkin tidak tau....atau mereka tidak peduli, tapi Chansung justru merasa kasihan terhadap Gaeun. Siapapun namja yang membuatnya menangis, namja itu sangat brengsek hingga membuat Gaeun merasa sesedih itu, begitu lah pendapat Chansung. Selama ini, apabila Gaeun sudah mulai menitikkan air mata, Jihwan lah yang menghampirinya dan menenangkannya, karena memang hanya Jihwan seorang yang tau masalah Gaeun.
Hari minggu. Hari itu kantor libur, dan Gaeun bersyukur. Bukan karena ia ahirnya bisa beristirahat, tapi karena ia bisa berusaha menghilangkan perasaannya pada Sunggyu, meskipun hampir selalu gagal. Sikap Sunggyu yang selalu baik terhadapnya membuat perasaannya justru semakin bertambah, dan itu membuat hatinya sakit.
“If we ever meet again, we’ll continue our relationship”
Gaeun mengingat kata-kata yang Sunggyu ucapkan padanya dulu. Ia hanya tertawa, tapi air matanya mengalir. Hatinya perih, mengingat bagaimana cara Sunggyu mempermainkannya.
“If we ever meet again, we’ll continue our relationship. Haha, we’ll continue our relationship you said? Apa-apaan ini haha” Gaeun mengusap air matanya yang terus mengalir.
Gaeun menghampiri jendela apartemennya. Embun menghalangi pandangannya. Tanpa sadar jarinya bergerak diatas kaca jendela itu, menulis nama Kim Sunggyu dalam hangul. Menyadari tulisan yang baru saja dibuatnya itu, Gaeun hanya tertawa. Hembusan nafasnya menutup kembali tulisan itu.
Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Gaeun kemudian mengenakan mantelnya dan berjalan keluar apartemen untuk makan dikedai.
Gaeun memilih tempat duduk dekat jendela. Tiba-tiba jantungnya terasa mencelos. Dilihatnya sepasang kekasih sedang duduk bersama tidak jauh dari tempat duduknya. Gaeun tidak mengenal yeoja itu, tapi Gaeun sangat mengenal namja itu. Ya, Kim Sunggyu. Matanya susah payah menahan air mata yang bersiap untuk jatuh. Disisi lain, Gaeun juga melihat Chansung yang sedang duduk meminum kopinya dan mengangguk seperti paham akan penyebabnya selama ini selalu sedih. Chansung kemudian menatap Sunggyu tajam. Gaeun lebih memilih mengalihkan pandangan ke arah jendela.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuhnya. Gaeun lantas mendongak dan menemukan Sunggyu dengan yeoja yang dapat Gaeun tebak sebagai pacar Sunggyu.
“Aku tidak tau kau suka datang ke kedai ini haha” sapanya ramah menampilkan matanya yang berseri. Yeoja disampingnya ikut tersenyum. Gaeun dengan terpaksa ikut tersenyum meskipun sedang setengah mati untuk tidak melempar yeoja itu keluar jendela.
“Ah iya, belum aku kenalkan kan. Gaeun-ah, ini Kim EunJoo, pacarku hehe. Eunjoo, ini Gaeun, teman SMA ku dulu yang pernah kuceritakan padamu” Sunggyu memperkenalkan. Gaeun dengan berat hati menjabat tangan Eunjoo dan tersenyum.
“WANITA INI MEMANG JAUH LEBIH CANTIK DARI PADA AKU. HAAAAH. KULEMPAR KAU” teriak Gaeun dalam hati.
“Aku mau ambil kopi yang tadi dulu ya sebentar” ucap Sunggyu pada Eunjoo. Eunjoo hanya mengangguk manis. Sunggyu tidak salah memilih pacar. Gaeun kemudian mempersilakan Eunjoo untuk duduk selama menunggu Sunggyu.
“Yang aku tau sih, kau mantannya Sunggyu ya?” Tanya Eunjoo dengan tatapan ‘sunggyu kini hanya milikku, jangan pernah dekati dia’.
“Ehm... ya begitulah” jawab Gaeun bergetar menahan tangis. Ia sudah bersiap melempar Eunjoo keluar jendela apabila Eunjoo tiba-tiba menyerangnya.
“Maaf ya aku jadi mengambil Sunggyu darimu” ucap Eunjoo dengan wajah menyesal. Sungguh diluar dugan Gaeun.
“Haha, bukan masalah kok” jawab Gaeun santai...atau lebih tepatnya mencoba untuk santai.
“Kau masih mencintainya kan?” tanyanya tepat sasaran. Gaeun hanya diam.
“Kalau begitu ini jadi masalah. Maafkan aku ya” Lanjutnya.
“Kau tidak marah?” tanya Gaeun begitu saja seakan sedang mengatakan ‘ya, aku masih sangat mencintai Sunggyu’.
“Marah? Untuk apa marah? Toh semua orang didunia ini bebas untuk mencintai seseorang kan” Eunjoo tersenyum. Sunggyu benar-benar tidak salah memilih wanita ini sebagai pacarnya, pikir Gaeun.

-To Be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar