Sabtu, 21 April 2012
[FF] Oh! My Boss! (Part 2)
Tidak lama kemudian, Sunggyu datang membawa dua gelas kopi ditangannya.
“Ngobrol apaan sih asik banget” ucap Sunggyu tersenyum. Eunjoo hanya tersenyum.
“Aku dan Eunjoo sudah menjalin hubungan lama. Sudah hampir dua tahun. Maaf ya baru memberi taumu” jelas Sunggyu tanpa diminta. Gaeun memasang tatapan ‘oh ya? Lebih baik aku tidak tau malahan’, namun Sunggyu tidak menyadarinya. Eunjoo yang menyadari itu, merasa tidak enak dengan Gaeun. Mata Gaeun mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba seorang namja menghampiri mereka bertiga. Chansung.
“Hey, antar aku” ucap Chansung menarik lengan Gaeun.
“Kami duluan ya” lanjut Chansung sambil beranjak pergi. Sunggyu hanya menatap punggung Chansung dan Gaeun yang menjauh. Diam-diam Eunjoo merasa lega.
Chansung masih menggandeng tangan Gaeun sepanjang perjalanan.
“Kau ini apa-apaan sih?” ketus Gaeun menarik tangannya.
“Kau mau aku biarkan menangis seperti orang gila didepan mereka hah? Lalu kau meminta Sunggyu untuk kembali padamu?” kata-kata Chansung itu memang agak tajam, tapi memang benar juga. Gaeun hanya menundukkan kepala.
“Tau darimana kau tentang aku dan Sunggyu?” tanya Gaeun tanpa mendongakkan kepalanya.
“Keadaan seperti tadi itu sangat mudah dibaca. Karena aku merasa kau sedang terpencilkan saat itu, jadi aku menyuruhmu pergi” jelas Chansung.
“Jujur aku tidak tahan melihatmu menangis” lanjut Chansung membuat wajah Gaeun memerah. Melihat wajah Gaeun memerah, wajah Chansung ikut memerah.
“Kamu kalo nangis itu jelek” ucap Chansung salah tingkah dengan wajah yang masih merah dan berjalan meninggalkan Gaeun yang masih mencibirnya dari belakang.
Gaeun sudah menghilang dari pandangan Gaeun. Perlahan detak jantungnya mulai normal. Sedikit rasa kecewa dihati Gaeun saat Chansung mengatakan ‘kamu kalau nangis itu jelek’. Kini ia tau Chansung mungkin tidak akan benar-benar menghiburnya.
*KEESOKAN HARINYA. SUNGGYU’S OFFICE*
“Jadi begitu? Hahaaa” Komentar Jihwan setelah mendengar cerita Gaeun dikedai kemarin. Gaeun hanya menghela nafas.
“Ah, tapi untung saja waktu itu ada Chansung. Coba ya kalo gak ada? Kau mungkin mempermalukan dirimu sendiri disana” komentar Jihwan lagi. Gaeun hanya mengangguk setuju dengan Jihwan. Tiba-tiba Sunggyu keluar dari ruangannya dan meregangkan otot-ototnya. Ia menoleh pada Jihwan dan Gaeun yang sedang asik mengobrol.
“Siapa yang suruh menghentikan pekerjaanmu, Jihwan-ah?” Sindir Sunggyu. Gaeun sebisa mungkin tidak melakukan eye-contact dengan Sunggyu.
“Dan siapa yang memperbolehkan kau duduk diatas meja?” Tanya Sunggyu lagi. Jihwan langsung turun dari meja Gaeun.
“Cepat lanjutkan kerjaanmu atau gajimu akan kupotong” Lanjut Sunggyu. Mendengar kata-kata Sunggyu yang mengancam anak buahnya seperti itu sangat tidak biasa ditelinga karyawan lain. Refleks karyawan yang lain berdiri untuk melihat kejadian tersebut. Jihwan sendiri hanya tertunduk.
“Apaansih? Aku hanya bercanda haha, sudah sana lanjutkan kerjaanmu” ucap Sunggyu sambil menampilkan senyuman mautnya. Karyawan lain yang melihat kejadian itu hanya tertawa lega. Jihwan sendiri sudah bersiap melempar Sunggyu dengan meja didepannya. Sunggyu hanya nyengir.
Seperginya Jihwan, Sunggyu menengok pada Gaeun sambil tersenyum.
“Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Sunggyu tersenyum sambil menunjuk ruangannya. Gaeun beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Sunggyu. Sementara Chansung memperhatikan mereka dari jauh.
Sunggyu mempersilakan Gaeun duduk. Belum apa-apa, Gaeun sudah panik sendiri. Ia takut tiba-tiba Sunggyu memecatnya.
“Maafkan aku ya” ucap Sunggyu membuka pembicaraan. Gaeun hanya mengangkat alisnya.
“Soal kemarin. Aku tidak seharusnya mengenalkanmu dengan Eunjoo secara blak-blakan. Apalagi sampai memberitau tentang hubungan kamu. Eunjoo sangat marah kemarin. Ia bilang tidak seharusnya aku bersikap seperti itu pada...mantan kekasihku sendiri” jelas Sunggyu sambil melirik Gaeun dengan hati-hati.
“Eunjoo mengomeliku kemarin. Dan tentang kau yang masih mencintaiku....maafkan aku” lanjut Sunggyu membuat Gaeun ingin menangis. Gaeun hanya menunduk.
“If we ever meet again, we’ll continue our relationship” ucap Gaeun pelan namun dapat menohok hati Sunggyu. Gaeun mencoba tertawa namun air matanya mengalir.
“Maaf ya, aku jadi mempermainkan perasaanmu” ucap Sunggyu lirih. Gaeun tetap menangis.
“Hubunganmu dan aku sekarang hanya atasan dan bawahan, dan aku....minggu depan akan menikah” lanjut Sunggyu. Gaeun merasa tertohok. Kata-kata Sunggyu yang tepat sasaran itu mungkin bermaksud agar Gaeun tidak lagi berharap padanya. Gaeun hanya berjalan gontai keluar tuangan sambil menutupi matanya yang merah.
Melihat Gaeun yang keluar dengan mata sembab, Jihwan langsung menghampiri Gaeun. Saat itu juga Gaeun menumpahkan perasaannya pada Jihwan. Jihwan yang memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi haya mengusap punggung Gaeun prihatin. Chansung diam-diam merasa kesal pada Sunggyu yang membuat Gaeun kembali menangis.
Matahari mulai meninggalkan ekornya. Langit berubah menjadi jingga. Kantor saat itu sudah mulai sepi, hanya beberapa office boy dan beberapa karyawan yang masih tinggal, termasuk Chansung dan Sunggyu.
Chansung menghampiri Sunggyu yang sedang bermain basket dihalaman belakang kantor. Sunggyu memang biasa bermain basket untuk menaikkan moodnya yang sedang down, dan ia biasa melakukannya ketika kantor sudah sepi. Merasa diperhatikan, Sunggyu menoleh pada Chansung.
“ah, kau belum pulang ternyata” sapa Sunggyu kemudian membiarkan bola basketnya menggelinding. Chansung dengan tidak sabar langsung menghampiri Sunggyu dan melayangkan tinju ke pipi mulus didepannya itu. Sunggyu terjembab ditanah dengan memegangi pipinya.
“Apa-apaan kau ini?” bentak Sunggyu masih terduduk.
“Tidak bosan ya kau melelehkan air mata Gaeun?” tanya Chansung.
“Ini bukan urusanmu” Sunggyu berusaha berdiri.
“TAPI DIA SEORANG WANITA YANG PERASAANNYA JUGA PATUT DIJAGA!!” Chansung meluapkan amarahnya. Sunggyu berdiri dan merapikan kemejanya. Chansung langsung mencengkram kerah kemeja Sunggyu.
“Lalu maumu apa?” bentak Sunggyu.
“Tak bisakah kau kembali menerima Gaeun?”
“Tidak bisa! Hubunganku dengannya kini hanya atasan dan bawahan. Boss dan sekertarisnya.......” kata-kata Sunggyu terhenti seperti tercekat. Entah kenapa ia merasa tidak bisa menceritakan bahwa ia akan menikah pada orang didepannya ini.
“Emangnya gaada sedikitpun perasaan kamu ke Gaeun?” tanya Chansun melepas cengkramannya dikerah kemeja Sunggyu dengan kasar.
“Ada sih.....sedikit”
“Terus kenapa kamu malah milih cewek lain?”
“Dulu aku maen mutusin Gaeun aja. Terus pas udah lulus, aku baru sadar aku masih suka dia. Eunjoo itu buat peralihan perasaan aku aja sebenernya”
Plak.
Chansung melayangkan tamparannya ke pipi kanan Sunggyu.
“Kenapa kamu gak hubungin Gaeun aja? Ajak balikan atau apa kek” ketus Chansung.
“Aku takut bikin salah lagi! Aku gamau nyakitin Gaeun dua kali!”
“Kamu gak ngehubungin dia aja udah salah! Coba kalo Eunjoo tau kalo dia Cuma buat peralihan doang. Kamu udah nyakitin dua perempuan!” Sunggyu hanya terdiam membenarkan kata-kata Chansung.
“Kenapa kamu yang repotin Gaeun?” Tanya Sunggyu membuat Chansung yang kini terdiam.
“Kau menyukainya? Haha” Sunggyu merapikan kemejanya dan mengemas tasnya. Chansung hanya terdiam hingga Sunggyu menghilang dari pandangannya. Chansung yang menyadari bahwa ia tinggal sendirian dihalaman belakang itu ahirnya melangkah pergi.
“Aku suka Gaeun?”
***
Gaeun memperhatikan Sunggyu yang sedang mengobrol dengan Chansung didepannya.
Sunggyu mengajak karyawan-karyawannya untuk makan siang bersama. Dan sekarang Gaeun, Sunggyu, Chansung dan Jihwan dan karyawan lainnya duduk bersama. Sunggyu mengobrol dengan yang lainnya seperti tidak ada masalah. Gaeun sebisa mungkin tidak bertatapan dengan Sunggyu.
“Oh iya, minggu depan aku dan Eunjoo akan menikah. Kalian datang ya” ucap Sunggyu tiba-tiba membuat Gaeun tertohok. Sunggyu memang bukan laki-laki yang peka, Gaeun sudah tau itu. Karyawan yang lainnya hanya bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Sunggyu. Chansung dan Jihwan tetap tersenyum meskipun sangat menyadari perubahan air muka Gaeun. Senyuman Chansung perlahan menghilang.
Pletak.
Mangkuk ramyun Chansung terjatuh menumpahkan isinya.
“Asshh, maafkan aku” ucap Chansung bersalah.
“Gaeun-ah, bisa kau pesankan aku ramyun lagi? Tolong” ucap Chansung yang membuat Gaeun langsung beranjak membeli ramyun. Diam-diam Gaeun melirik Chansung yang sedang membersihkan lantai yang kotor. Sunggyu pun ikut membantunya. Gaeun merasa ada yang aneh.
Hari semakin sore. Kantor semakin sepi. Sunggyu pun sudah pulang dari setadi, seperti karyawan lainnya, namun Gaeun masih harus menyelesaikan kerjaannya. Gaeun ingin menelfon Jihwan agar datang membantunya, tapi battery hp nya habis. Gaeun hanya menghela nafas. Langit diluar semakin gelap, dan Gaeun mulai ketakutan. Suara beberapa office boy yang sedang menyapu cukup membuat Gaeun sedikit lega.
Tak!
Gaeun memencet tombol ‘enter’ dikeyboardnya dengan keras menandakan kelegaanya karena ahirnya tugas yang menyita waktunya itu selesai. Gaeun baru akan melangkah meninggalkan mejanya ketika tiba-tiba listrik kantornya padam.
“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH” Gaeun berteriak dengan menggenggam gagang kursi erat. Gedung saat itu sangat gelap. Gaeun perlahan mulai melangkah mencari tangga. Dan tiba-tiba…….
BRUK!
Gaeun menabrak benda didepannya hingga terjatuh. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena ketakutan.
“Aiiissshh” erang seorang namja.
Tiba-tiba lampu menyala. Mata Gaeun terbelalak. ‘benda’ yang ia tabrak ternyata adalah tubuh Chansung. Wajah Gaeun memerah dan membuat wajah Chansung ikut memerah. Tubuhnya semakin tidak bisa bergerak. Nafasnya tertahan. Pandangannya tidak berpindah dari mata Chansung.
“Tidak mengerti istilah ‘man on top’ ya?” Tanya Chansung dengan tersenyum menggoda. Gaeun langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. Wajahnya masih merah.
“Becanda. Hahaha” Ucapnya tertawa. Gaeun hanya menghembuskan nafas. Ia baru menyadari Chansung yang belum pulang.
“Baru mau pulang?” Tanya Chansung membuyarkan lamunan Gaeun.
“Iya”
“Mau kuantar?” tawar Chansung. Gaeun yang memang sedang malas mencari angkutan ahirnya mengiyakan ajakan Chansung.
Selama perjalanan dimobil Chansung, tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Gaeun masih memikirkan kejadian canggung yang tadi ia alami dan membuat sesuatu yang aneh tumbuh.
Sedangkan Chansung memikirkan satu hal yang harus ia katakana pada Gaeun.
Tidak terasa ahirnya mobil berhenti didepan apartemen Gaeun. Gaeun segera membuka pintu untuk pergi.
“Kamsahab….” Kata-kata Gaeun terhenti karena Chansung mencengkram tangannya. Gaeun hanya menatap Chansung dengan tatapan ‘ada apa lagi?’
“ada yang harus aku bicarakan” ucap Chansung menjawab tatapan Gaeun.
“ngh… aku….” Nafas Chansung tercekat.
“daripada kamu sakit terus sama Sunggyu, mendingan sama aku aja” ucap Chansung mencoba untuk santai.
“ish… micheosseo” Gaeun membuat gerakan melingkar dengan telunjuknya dipelipisnya. Gaeun pergi meninggalkan Chansung dengan terkekeh menganggap perkataan Chansung tadi itu hanya bercanda. Gaeun melambaikan tangan hingga mobil Chansung menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba ia merasa ada yang aneh pada perkataan Chansung tadi. Wajahnya kembali memerah.
Tiga hari berlalu. Jihwan yang mengetahui kejadian malam itu pun beranggapan sama dengan Gaeun. Ada sesuatu yang aneh dengan Chansung. Namun saat Jihwan mengatakan bahwa mungkin Chansung menyukai Gaeun, Gaeun hanya tertawa terbahak membuat Jihwan gondok.
Semenjak malam itu pun, sikap Chansung pada Gaeun sedikit demi sedikit berubah. Chansung menghindari kontak mata dengan Gaeun. Gaeun merasa agak terganggu dengan itu, namun Gaeun tidak terlalu peduli.
“Gaeun-ah…” panggil Sunggyu membuat Gaeun menoleh.
“Eunjoo sangat mengharapkan kedatanganmu lusa ya. Jadi…kumohon datanglah” ucap Sunggyu agak terbata. Gaeun hanya tersenyum mengangguk, meskipun hatinya terasa sakit.
“Oh iya, maaf ya selama ini, maaf ya aku tidak bisa kembali padamu lagi” ucap Sunggyu pelan agar tidak terdengar orang lain. Namun Chansung memperhatikan mereka dari jauh.
“Aku terlalu menyayangi Eun…..”
“Gaeun-ah, bantu aku sini” ucap Chansung memotong kata-kata Sunggyu.
“Permisi” lanjut Chansung pada Sunggyu sambil menarik tangan Gaeun. Sunggyu hanya melongo tidak mengerti.
Chansung terus menarik Gaeun hingga tak tentu arah.
“Apaan sih? Kita mau kemana?” bentak Gaeun menarik tangannya dari genggaman Chansung. Chansung baru sadar kalau langkahnya sudah sampai di halaman belakang. Chansung tiba-tiba merasa bahwa itu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Gaeun. Keadaan halaman belakang yang memang sangat jarang dijamah orang—kecuali Sunggyu—mendukung niat Chansung.
Nafas Chansung tiba-tiba tertahan membuatnya tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Apa?” Tanya Gaeun tidak sabar.
“Nggak jadi deh” ucap Chansung ahirnya setelah terdiam beberapa saat dan pergi meninggalkan Gaeun.
“Ish! Gak jelas!” umpat Gaeun dalam hati.
Gaeun membanting tubuhnya dikursi. Jihwan menghampirinya dengan tersenyum.
“Waeyo Gaeun-ah?” Tanya Jihwan.
“tuuh Chansung, gajelas, biasa” ketus Gaeun.
“Buka matamu Gaeun-ah, lihatlah siapa yang sebenarnya memperhatikanmu” ucapan Jihwan membuat Gaeun melirik Chansung yang sedang menggaruk belakang kepalanya seperti orang bodoh. Gaeun tertawa pelan. Jihwan benar.
Hari semakin gelap. Seperti biasa, meskipun yang lain sudah pulang, Gaeun masih betah duduk dikursinya. Dan seperti pasangan yang memang ditakdirkan bersama, Chansung pun masih disana. Anehnya, saat itu wajah Chansung benar-benar merah. Matanya sayu. Tubuhnya terduduk dan menyandar pinggir salah satu meja. Ditangannya tergenggam sebotol soju yang entah darimana ia dapatkan.
Gaeun yang merasa panik langsung berlutut disamping Chansung. Chansung yang terlihat mabuk hanya menatap Gaeun tanpa ekspresi.
“Ah kau ini!” ketus Gaeun sambil menarik botol soju dari tangan Chansung.
“Aku hauuuuuuus” rengek Chansung. Gaeun menatap Chansung tidak percaya. Soju dibotol itu sudah habis. Chansung memang maniak atau apa?
(ps. Gue sebenernya gatau Chansung itu suka minum-minuman apa kaga nyehehe-_-)
Tiba-tiba tangan Chansung menyentuh pipi Gaeun. Didekatkannya wajah Gaeun. Nafas Gaeun tertahan tanpa tau apa yang akan Chansung lakukan. Chansung mencondongkan wajahnya. Tercium bau soju dari nafasnya. Gaeun hanya memejamkan matanya. Jantungnya berdegup keras.
Tiba-tiba Gaeun merasakan sesuatu yang berat menimpa bahunya. Matanya terbuka dan mendapatkan kepala Chansung bersandar dibahunya. Gaeun menghela nafas. Dengan susah payah Gaeun mencoba membawa Chansung menuju mobil Chansung. Diambilnya kunci mobilnya dari kantong Chansung. Gaeun yang tidak tau dimana rumah Chansung ahirnya memutuskan untuk membawa Chansung keapartemennya.
***
Chansung membuka matanya. Perlahan ia menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk kematanya. Setelah sadar penuh, Chansung baru menyadari ia tidak mengenali tempat sekelilingnya. Ia terbaring disofa dengan tubuhnya yang tertutup selimut. Chansung melirik kedalam selimut. Masih mengenakan baju yang kemarin.
Tatapannya terhenti pada Gaeun yang lewat sambil membawa sebuah mangkuk ramyun.
“Kau mabuk semalam, jadi aku bawa kesini. Abis aku gatau rumahmu dimana” jelas Gaeun sambil meletakan ramyun. Chansung hanya mengangguk.
“Makanlah” ucap Gaeun sambil duduk disebelah Chansung.
“Kau tidak makan?”
“Udah dari kamu belom bangun. Kebo amat sih bangunnya siang-siang” ejek Gaeun. Chansung hanya menyantap ramyun didepannya tanpa memperdulikan Gaeun. Chansung tidak membutuhkan waktu banyak untuk menghabiskan semangkuk ramyun. Gaeun sampai bertepuk tangan.
“Aku mau mandi” ucap Chansung. Gaeun hanya melemparkan handuk dan membuat Chansung segera beranjak.
Gaeun menaruh dua gelas strawberry milkshake dimeja setelah Chansung mandi selama setengah jam. Chansung ahirnya keluar dengan rambut basah. Aroma sabun bayi tercium sengit.
“Untukku?” Tanya Chansung melirik gelas milkshake.
“Iya, duduk lah” jawab Gaeun tersenyum. Chansung duduk disebelah Gaeun dan langsung meminum milkshake didepannya.
“Sweet” komentar Chansung. Gaeun hanya tersenyum dan ikut meminum milkshakenya.
“Ah iya, semalem, waktu aku mabuk, aku ngapain aja?” Tanya Chansung. Gaeun hanya terdiam.
“Gak ngapa-ngapain kok” jawab Gaeun ahirnya.
“Kalo gak ngapa-ngapain, kok muka kamu sampe merah gitu?” Tanya Chansung lagi sambil menunjuk pipi Gaeun. Gaeun refleks menutupi pipinya. Chansung hanya tertawa.
“Eh…. Soal yang waktu itu… dimobil…..” ucap Chansung lagi.
“Aku serius loh” lanjutnya.
“Apa?” Tanya Gaeun.
“Mendingan kamu sama aku aja”
“Ish, apaansih”
“Serius”
“Gimana kalo kamu Cuma becanda?”
“Gimana kalo aku serius? Aku yang ngerasain, aku yang tau dong” ucapan Chansung membuat Gaeun terdiam. Gaeun ahirnya beranjak untuk pergi.
“Mau kemana?” Tanya Chansung menahan tangan Gaeun.
“Mesen baju buat acara Sunggyu besok”
Chansung menarik tangan Gaeun hingga Gaeun terjatuh. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Gaeun. Chansung mencondongkan wajahnya. Gaeun hanya memejamkan matanya, dan…….dan…dan…….chu~~
Rasa manis milkshake dibibir Chansung dapat Gaeun rasakan. Gaeun hanya memejamkan matanya.
“Jadi apa jawabanmu?” Tanya Chansung masih tanpa menjauh dari wajah Gaeun.
“Ya” jawab Gaeun singkat. Chansung hanya tersenyum menatap gadis didepannya.
-Epilogue-
Kriiiiing.
Telfon disebuah rumah megah berdering. Seorang namja dengan kesan ‘cool’ nya mengangkat telfon itu.
“Yeoboseyo?” Tanya namja itu.
“Sunggyu-ah? Ini aku, Chansung. Hwang Chansung”
“Oh, Chansung-ah!! Apa kabarmu?”
“Baik hyung, bagaimana denganmu?”
“Aku juga. Bagaimana Gaeun?”
“Ah dia, sehat-sehat saja. Kata dokter, bayinya laki-laki hehe”
“Waaaah, udah mau jadi bapak!! Mendahuluiku ya ceritanya, haha!”
“Hehe, mianhae lah hyung. Bagaimana kabar Eunjoo?”
“Dia baik-baik saja”
“Ah iya hyung, kau pernah mendengar lagi kabar tentang Jihwan?”
“Yang terahir kudengar dia sekarang menjadi penulis, yaa semenjak perusahaanku bangkrut. Terus katanya dia udah sama Myungsoo, dan sekarang mereka tinggal di Amerika, dan Jihwan sendiri jadi penulis best seller disana. Itu sih yang terahir aku denger. Taudeh sekarang gimana.” jelas Sunggyu.
“Wow. Kapan hyung dengernya?”
“Kemaren, hehe”
“aiiish, hyung! Haha! Ah, udah dulu ya hyung, masih harus ngurusin Gaeun nih hehe. Nanti kutelfon lagi ya. Bye hyung~”
“Byee~”
Klep.
-THE END-
ps. Gue juga gatau kenapa si Myungsoo tiba-tiba muncul disitu hhh-_-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar