Senin, 09 April 2012

[FF] Tell Me The Truth

Cast: -Shin ChanTae
-Yong JunHyung
-Son DongWoon
-Han ChaeYoung
-Oh HaYoung
Genre: Romance

HOAAAAH ahirnya ff kedua selesai setelah bertapa sekian lama-_- Kayak dulu, ff ini selain bergenre romance juga tijel, abal, ngaco, dan emang sinetron abis (walaupun sebenernya ini semua murni dari otak cemerlang saya haha-_-) Niatnya sih bikin ff yang bisa bikin nyesek, tapi kalo ternyata anda tidak mendapatkan 'feel'nya sewaktu membaca ff ini...ya mianhae lah, author baru wekek. Selamat membaca, dan mianhae kalo ada typo *bow*
-----------------------

Seorang yeoja 18 tahun berlari dengan terburu-buru didalam rumah besarnya.
“Umma! Aku berangkat ya!”  Teriaknya di ambang pintu depan.
“Sekolahmu dimulai jam 9 kan? Masih lama” Jawab Ummanya sambil menuruni tangga.
“Hari pertama sekolah, harus memberikan kesan baik” cengir yeoja bernama Chantae itu dan mengecup pipi Ummanya.
“Bye umma~” lambainya sambil menghampiri motornya. Ummanya hanya tersenyum.

Sudah seminggu Chantae dan ummanya pindah tinggal di Korea. Semenjak sang appa meninggalkan mereka untuk selamanya, ummanya memilih pindah rumah untuk memulai pola kehidupan yang baru.
Chantae sudah mendesak ummanya dari hari pertama sampai di Korea untuk segera menyekolahkannya. Ummanya menolak dengan alasan bahasa korea Chantae yang belum lancar. Chantae yang bahasa koreanya sudah setara dengan bahasa indonesianya menolak alasan ummanya mentah-mentah. Hingga saat ini Chantae memakai seragam sekolahnya, dan bersiap untuk berangkat. Ia tidak bisa lebih bahagia dari ini.

Chantae mulai melaju motornya. Dilihatnya beberapa yeoja dengan seragam yang sama sedang berjalan kaki. Chantae tersenyum pada mereka yang hanya membalasnya dengan senyuman kaku. Chantae yakin hari ini akan jadi hari terbaiknya.

*CUBE HIGH SCHOOL* (ngasal-_-)
Chantae memarkirkan motornya. Ia merapikan bajunya dan segera berderap menuju pintu sekolah. “Sekolah ini bagus sekaliiiii” pikirnya. Ditebarkannya senyum terbaiknya pada setiap siswa yang melewatinya.
Kakinya terhenti di depan ruang yang jika-menurut-data-hari-pertamanya merupakan ruang kelasnya. Dilihatnya kelas tersebut masih sepi, hanya beberapa tas yang ditinggalkan di tiap-tiap meja oleh pemiliknya. Chantae membutuhkan seorang teman untuk memilih tempat duduk yang baik. Merasa takut, ia hanya melongo diambang pintu.
“mau masuk atau tidak?” tanya suara berat dari belakangnya. Chantae menengok dan menemukan seorang namja dengan wajah dingin.
“aku menunggu loh” lajut namja tersebut membuat lamunan Chantae buyar. Chantae merapatkan tubuhnya kedinding agar namja yang baru ditemuinya itu bisa masuk.
“ah, aku baru melihatmu loh” Ujar namja tersebut sambil terus berjalan menuju tasnya tanpa menoleh.
“iya, ini hari pertamaku” jawab Chantae dengan aksen korea yang lancar.
“udah laporan?” Tanya namja itu. Chantae baru ingat ia telah melupakan hal terpenting: laporan. Pikirannya terlalu sibuk memperhatikan sekolah barunya itu. Melihat Chantae yang diam, namja itu mengerti dan mengantar Chantae keruang tata usaha. Wajah namja itu memancarkan aura dingin yang justru membuat dirinya keren, terlebih lagi sifatnya yang ternyata sangat baik.

“Junhyung. Yong Junhyung” ucapnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan.
“Chantae”
Namja bernama Junhyung itu hanya tersenyum. “Mempesonaaaaa” batin Chantae.
Sepanjang perjalanan menuju ruang tata usaha, Junhyung menanyakan tentang kepindahan Chantae.
Chantae bercerita bahwa ia pindah karena ayahnya meninggal dunia. Ia juga bercerita bahwa ibunya merupakan orang Korea yang tinggal di Indonesia sedangkan ayahnya orang Indonesia asli, itu sebabnya meskipun warga Indonesia asli, ia terlahir dengan nama Korea. Junhyung mengangguk paham.
Percakapan itu membuat keduanya tidak sadar bahwa langkahnya sudah sampai didepan pintu tata usaha. Junhyung terus membantu Chantae hingga bel masuk berbunyi.

*CHANTAE POV*
Bel pulang baru saja berbunyi. Setelah guru jeluar ruangan, aku segera membereskan tasku. Saat aku baru saja akan melangkahkan kaki meninggalkan kursiku sebuah tangan menahanku. Ku dongakkan kepalaku dan mendapatkan wajah angkuh seorang yeoja.
“Waeyo?” tanyaku.
“Kau baru kan?” tanyanya angkuh.
“Ne”
“Jangan pernah dekati Junhyung”
“aku tidak mendekatinya”
“Baru hari pertama kau sudah berani berbohong? Yeoja murahan macam apa kau?” Bentaknya sambil memukul pipiki keras dengan punggung tangannya hingga aku terjembab dilantai.
“Kukatakan sekali lagi ya, jangan pernah dekati Junhyung” ucapnya menekankan, kemudian ia berlalu keluar kelas.

Aku masih terduduk dilantai sambil memehangi sudut bibirku yang ternyata berdarah. Pukulannya ternyata keras juga. Sebaiknya aku menjauhi Junhyung daripada yeoja itu memukulku lagi --tapi lagian aku tidak bermaksud mendekatinya.... Tapi dia orang pertama yang aku kenal, gak lucu kalo tiba-tiba aku menjauhinya.
Sebuah tangan menyentuhku lembut. Aku menoleh dan melihat seorang yeoja dengan wajah khawatir.
“Gwaechana?” tanyanya
“ne” jawabku sambil berusaha berdiri.
“Maafkan kelakuan Chaeyoung tadi ya”
“Chaeyoung? Oh, orang itu ya. Ne”
“Oiya, Hayoung” ucapnya sambil menjulurkan tangan.
“Chantae”

Hayoung bercerita tentang Chaeyoung yang memang egois dan suka bertindak semaunya. Aku bisa memaklumi dari kelakuannya tadi. Aku hanya mendengarkan Hayoung bercerita hingga tidak terasa kami sudah  di pintu keluar. Hayoung pamit untuk pulang, sedangkan aku terus melajutkan langkah kakiku hingga ke tempat parkir.

Tiba-tiba suara berat menghentikan langkahku.
“annyeong” sapa suara berat itu. Aku menoleh dan mendapatkan seorang namja dengan tubuh tinggi dan wajah yang lebih mirip orang arab sedang tersenyum ramah kearah ku.
“annyeong” sapaku sambil menyalakan motor.
“Dongwoon” ucapnya memperkenalkan diri.
“Chantae”
“Ku dengar kau baru disini”
“iya ini hari pertamaku”
“bagaimana hari pertamamu?” tanyanya tanpa memperdulikan bahwa kami baru saja bertemu.
“aku masih sulit membiasakan diri”
“Kalo butuh temen.....” ucapnya sambil menarik tanganku dan mengeluarkan spidol. Ia mulai menuliskan beberapa nomor, dan kemudian tersenyum sambil menutup spidolnya.
“Bye~” ucapnya sambil melaju motornya meninggalkanku yang masih menatapnya bingung. Ku lirik nomor yang ia tulis ditanganku.
“apa maumu?” batinku.
*CHANTAE POV END*

*09.30PM. RUMAH CHANTAE*
Chantae membanting tubuhnya diatas ranjang setelah melewati makan malam bersama ummanya.
“Kalau butuh teman”
Kata-kata Dongwoon itu masih berputar dikepalanya.
“Kalau butuh teman? Kau pikir aku tidak akan mendapatkan teman?” pikir Chantae. Tiba-tiba saja senyuman Junhyung muncul dibenaknya. Tanpa sadar Chantae ikut tersenyum. Menyadari wajahnya yang memerah, Chantae membenamjannya dibalik bantal. Ia sangat beruntung dipertemukan dengan Junhyung, namja yang penuh pesona, keren, dan baik hati.

Tiba-tiba senyuman Junhyung hilang, digantikan dengan nomor yang tertulis di tangannya. Pikirannya masih bingung.
“Mengapa Dongwoon memberikan.....nomor hpnya? Untuk apa? Kalo aku butuh teman? Apa maksudnya? Dia pikir aku tidak akan mendapatkan teman?” Benak Chantae bingung.
Senyum Junhyung kembali muncul, seakan menyapu pertanyaan tentang nomor yang merebut pikirannya. Kini senyuman itu terus berputar dikepalanya. Wajah Chantae merona. Lama kelamaan, Chantae ahirnya terlelap dengan senyuman Junhyung yang masih menghantui benaknya.

*07.00AM*
Kriiiiiiing.
Tangan Chantae menggapai-gapai jam weker nya.
Matanya masih menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk ke matanya. Tanpa sengaja tatapannya jatuh ke nomor ditangannya.Untuk menghadapi segala kemungkinan, Chantae memilih untuk menyimpannya di buku telfon hpnya, dan kemudian mencuci tangannya.
Chantae menuruni tangga dan tidak menemukan ummanya.
“Umma?”
“Umma sudah berangkat kerja” ucap seorang maid yang sengaja disewa untuk mengurus rumah.
“Kerja?” tanya Chantae heran.
“Ne”
“Bagaimana dengan sarapan ku?”
“Semua sudah siap” jawab maid itu sambil mohon untuk melanjutkan aktivitas lain.
Chantae melahap makanan yang sudah disediakan itu. Tiba-tiba pikirannya melayang pada Junhyung. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan ketika bertemu Junhyung nanti. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan apabila Junhyung masih berbuat baik.
Terlalu banyak berfikir, ahirnya ia melewati paginya dengan memikirkan Junhyung.

*CUBE HIGH SCHOOL*
Chantae menghempaskan tubuhnya diatas kursi. Pandangannya menyapu seluruh kelas. Namja yang dicarinya tidak terlihat. Ia hanya menghela nafas.
“Annyeong Chantae-ah” sapa seorang namja dengan ramah. Namja yang ia cari, ya, Junhyung.
“Annyeong” sapa Chantae tidak kalah ramah.
“Bagaimana hari pertama mu kemarin?”
Tidak ingin memulai masalah, Chantae hanya mengangkat bahu. Junhyung terkekeh pelan
“Gak sepi apa duduk dibelakang? Sendirian lagi” tanyanya.
“yaa, sepi juga sih”
Junhyung tiba-tiba memindahkan tasnya kesamping Chantae.
“Mwo?”
“butuh temen ngobrol kan?” tanyanya tersenyum. Chantae hanya membiarkan Junhyung duduk disebelahnya.

Diam-diam ia merasa senang. Junhyung memang termasuk namja yang terkenal disekolah, meski begitu, ia tidak segan untuk mendekati orang-orang baru seperti Chantae, dan lagi, Junhyung pandai membawa suasana. Sesekali Chantae dibuatnya tertawa, dibuat nyaman disisinya. Tanpa sadar, sepasang mata sedang memperhatikan dengan tajam, Memperhatikan dua orang yang sedang tertawa bahagia, sementara hatinya sakit.

Chantae sedang merapikan catatannya ketika Hayoung menepuk pundaknya.
“ada apa?” tanyanya.
“boleh minta tolong gak?” tanya Hayoung hati-hati.
“ne, wae?”
“boleh kau antar project ini pada ms.Kim? Aku masih menulis catatanku”
“oh ne” jawab Chantae kemudian berlalu pergi.

Baru saja Chantae keluar kelas, seorang yeoja berdiri menghalanginya. Chaeyoung.
“Permisi” Chantae berusaha untuk pergi.
“Sudah kukatakan ya, jangan dekati Junhyung” ucap Chaeyoung masih menghalangi Chantae.
“apa masalahmu?” tanya Chantae memberanikan diri. Chaeyoung hanya tersenyum angkuh.
“Karena dia namja ku” jawab Chaeyoung tersenyum penuh kemenangan dan meningalkan Chantae yang masih membeku. Hatinya terasa sakit. Namja yang baru ia kenal, dan Chantae sangat nyaman berada disisinya...sudah memiliki yeoja. Hatinya masih belum menerima. Bukan karena ia menyukai orang yang sudah dimiliki orang lain, tapi karena Junhyung mau mendekatinya dan bersikap sangat baik padanya, sedangkan ia telah memiliki yeoja.
Tatapannya jatuh pada project ditangannya. Ia mulai melangkahkan kaki menuju ruang guru.

Chantae bermaksud melangkahkan kakinya cepat setelah bel pulang berbunyi. Dongwoon menghalanginya saat ia ingin melaju motornya.
“mwohae?” Tanya Chantae tanpa sadar telah menggunakan bahasa informal.
“kenapa kau tidak menghubungiku?”
“harus ya?” Chantae meninggalkan Dongwoon yang masih terdiam.
“Aku hanya ingin mengenal mu, tidak boleh?” teriak Dongwoon membuat Chantae terhenti.
“Namaku Chantae. Kau sudah tau itu kan?” Cetus Chantae sambil kembali meninggalkan Dongwoon. Meski begitu, ia berniat untuk menghubungi Dongwoon nanti malam. Ia butuh teman.

***
Sudah sebulan Chantae berusaha menghindari Junhyung. Kini setiap bel istirahat berbunyi Chantae lebih memilih langsung pergi ke kantin atau menghampiri Dongwoon. Meskipun mereka masih duduk berpasangan, Chantae sebisa mungkin menghindari percakapan.
Junhyung yang menyadari hal itu menahan Chantae saat ia akan menghampiri Dongwoon.
“kau kenapa sih?” tanya Junhyung
“kenapa apanya?”
“sikapmu berbeda, kau tau?”
“oh ya?”
“kenapa? Apa yang telah aku perbuat sehingga kau begini?”
“tidak ada” ketus Chantae kemudian meninggalkan Junhyung yang masih bingung akan kelakuan yeoja yang sudah dianggapnya sahabat itu---atau lebih.
Chantae menggandeng Dongwoon ke kantin tanpa memperdulikan tatapan Junhyung. Dongwoon menatap Junhyung tajam sambil mengikuti Chantae. Junhyung tambah bingung karenanya.

Bel pulang berbunyi disaat yang tepat. Saat Chantae sudah lelah menjauhi Junhyung, meskipun perasaannya tidak berubah dari dulu.
Junhyung menahan tangan Chantae yang ingin bergegas pergi. Kelas saat itu sudah kosong. Hanya saja sepasang mata masih memperhatikan mereka dari luar kelas.
“ada apa lagi?” tanya Chantae.
“kau kenapa?” tanya Junhyung balik.
“sudah kubilang tidak ada apa-apa”
“jujurlah”
“begini ya, kau sudah lama disini, aku baru. Kau populer dan aku tidak. Kau sudah memiliki seorang yeoja dan aku tidak memiliki siapapun”
“....”
“jangan terlalu baik padaku”
Chantae meninggalkan Junhyung yang masih termenung. Air matanya mengalir seiring dengan langkah kakinya.
“aku? Memiliki yeoja?” tanya Junhyung tidak membuat Chantae berbalik.

*08.00PM. LEE RESTAURANT*
“kau mau pesan apa?” Tanya Dongwoon, Chantae hanya menatap meja didepannya kosong.
“Heey” panggil Dongwoon yang kini membuat Chantae menoleh.
“mau pesan apa?” ulang Dongwoon. Chantae hanya menggeleng.
“Kau sudah dari siang belum makan”
Chantae hanya terdiam membuat Dongwoon mengehela nafas. Dongwoon tau persis Chantae belum bisa merelakan Junhyung. Ia tau selama ini hati Chantae hanya milik Junhyung.
“Mau kuantar pulang?” Tawar Dongwoon ahirnya. Chantae mengangguk.

Selama perjalanan pulang tidak ada yang memulai pembicaraan. Meski begitu, bisa Dongwoon rasakan tubuh Chantae yang merapat dipunggungnya. Bisa ia raskan juga air mata Chantae mengalir dipundaknya. Air mata perasaan lelah karena terlalu lama bersembunyi dibalik topeng, topeng yang membuatnya terlihat membenci Junhyung, namja yang ia sukai dari awal bertemu.

Dongwoon mungkin belum bisa mendapatkan Chantae, perasaannya mungkin tidak akan terbalas oleh Chantae, tapi dengan menjadi sahabat Chantae yang bisa selalu disisinya, dan membuat Chantae ingin menumpahkan semua perasannya, membuat Dongwoon cukup senang, meskipun Dongwoon tau semua ini tidak akan berlangsung lama lagi.
Dongwoon juga tau perasaannya pada Chantae bertepuk sebelah tangan, Dongwoon selalu tau.

Lamunan Dongwoon terhenti saat ahirnya mereka sampai didepan rumah Chantae. Chantae berusaha untuk berhenti menangis namun air matanya terus mengalir. Dongwoon mengulurkan tangan kepipi Chantae untuk menghapus air mata itu.
“Berhentilaaah” Dongwoon masih menghapus air mata Chantae yang terus mengalir.
“apa salahku?” Chantae masih belum berhenti menangis.
“Kau hanya terlalu cepat jatuh cinta” jawab Dongwoon tanpa menyadari dirinya sendiri terlalu cepat jatuh cinta. Jawaban Dongwon membuat tangisan Chantae justru semakin menjadi. Perlahan Chantae memeluk Dongwoon.
“Aku bukan hanya terlalu cepat, aku salah jatuh cinta pada orang yang sudah memiliki orang lain. Kenapa harus dia?” tangis Chantae. Dongwoon hanya membiarkan Chantae menangis dipelukannya. Menangisi orang lain didalam pelukannya.

*23.00.PM. RUMAH JUNHYUNG*
Sedari tadi Junhyung hanya memandang langit-langit kamarnya. Tatapannya kosong namun pikirannya penuh—dengan Chantae.
“Kau sudah memiliki seorang yeoja dan aku tidak memiliki siapapun”
Kata-kata Chantae itu terus memenuhi kepalanya. Ia masih tidak mengerti. Perasaan bingungnya membuat kakinya melangkah menuju balkon kamarnya. Dilihatnya langit yang gelap tanpa bintang. Seperti hatinya tanpa keceriaan Chantae. Tidak mendapatkan inspirasi, Junhyung kembali menuju ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya.

Junhyung sudah menyukai Chantae dari pertama bertemu dengannya. Wajah polos Chantae cukup menghipnotisnya. Junhyung yang belum pernah benar-benar jatuh cinta pada seorang yeoja merasa senang bertemu dengan Chantae. Dan ia merasa senang Chantae juga terlihat nyaman disisinya. Namun entah apa yang terjadi pada hari ketiga Chantae disekolah, dan membuat Chantae berubah drastis padanya. Siapapun yang melakukannya, Junhyung akan sangat membenci orang itu.

Dongwoon.

Junhyung baru ingat semenjak jauh darinya, Chantae lebih sering bersama Dongwoon.
Orang itu yang membuat Chantae berubah? Apa yang dilakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepala Junhyung berdenyut sementara hatinya terasa sakit. Perlahan Junhyung ahirnya terlelap.

*CUBE HIGH SCHOOL*
Chantae menatap kosong soal dengan rumus-rumus didepannya.
“Aku gak ngertiiiiiiii” keluh Chantae pada Dongwoon yang duduk didepannya. Dongwoon hanya tertawa.
“Apa yang kau tertawakan?” Chantae mulai malas.
“Ekspresimu tadi lucu tau” tawa Dongwoon. Chantae hanya cemberut.
“Eh iya....” Panggil Chantae membuat Dongwoon mendongak.
“Pendapatku sih ya, kau kan tampan, keren, pintar, pintar dalam hal apapun deh” ujar Chantae jujur.
“wah aku tersanjung”
“Tapi kenapa kau tidak ada teman?” tanya Chantae blak-blakan membuat Dongwoon termenung. Chantae langsung memukul mulutnya seolah sudah menyebarkan rahasia negara. Dongwoon hanya tersenyum simpul.
“Kau pikir kau siapanya aku? Aku punya kau. Itu artinya aku punya teman kan?” Jawab Dongwoon ahirnya meskipun agak berat dengan menggunakan ‘teman’ sebagai kata ganti ‘Chantae’.
“Ya sebelum ada aku gitu” balas Chantae merasa belum puas dengan jawaban Dongwoon. Dongwoon hanya menghela nafas.
“Tidak ada yang mau berteman dengan orang penyakitan” jawab Dongwoon ahirnya.
“Hah?”
“Kanker paru-paru stadium ahir” Jawab Dongwoon pelan seakan menjawab semua pertanyaan yang bergerumul dikepala Chantae. Chantae hanya membeku.
“Yaaaa itulah mengapa ketika kau datang aku langsung memberikanmu nomor hpku dan berharap kau mau menghubungiku. Kenapa? Aku butuh teman” lanjut Dongwoon panjang lebar. Kini Chantae menyesal tidak langsung menghubungi Dongwoon. Mata Chantae mulai berkaca-kaca.
“Jangan nangis dong, nanti dikiranya aku yang bikin kamu nangis” Dongwoon mulai menghapus airmata Chantae.
“Emang kamu yang bikin aku nangis” Jawab Chantae menggenggam tangan Dongwoon dipipinya. Chantae menggenggam tangan Dongwoon erat seakan takut kehilangan Dongwoon saat itu juga. Kelas saat itu sedang sepi karena jam terahir yang kosong, jadi Dongwoon membiarkan Chantae menangis ditangannya hingga bel pulang berbunyi.

Hari itu Dongwoon akan mengantar Chantae pulang lagi. Namun tiba-tiba ia ingat salah satu bukunya tertinggal diloker. Dongwoon menyuruh Chantae untuk tunggu dan segera berlari.
Dongwoon telah menemukan bukunya. Saat ia menutup loker, didapatkannya Junhyung sudah berdiri disampingnya. Menatapnya dengan pandangan dingin.
“Apa?” Tanya Dongwoon ketus.
“Kau apakan Chantae?” Tanya Junhyung balik.
“Aku? Bukankah justru kau yang membuatnya begitu?”
“Apa maksudmu?”
“Tidak kah kau sadar? Kau mendekatinya sendangkan kau sendiri sudah punya yeoja?”
“Yeoja?”
“Chaeyoung? Han Chaeyoung? Jangan bilang kau lupa padanya”
“Dengar ya, aku dan Chaeyoung tidak ada apa-apa” Tandas Junhyung membuat Dongwoon terkesiap.
“Jadi... selama ini...”
“Selama ini Chantae salah paham” ucap Dongwoon memotong perkataan Junhyung.
“Chantae selama ini hanya tau kau itu namja Chaeyoung” lanjut Dongwoon.
“dari siapa?”
“Dari Chaeyoung” jawab Dongwoon singkat namun menjawab semua pertanyaan yang terus menghantui Junhyung.
“Lebih baik kau cepat memberitau Chantae yang sebenarnya dan utarakan perasaanmu” Lanjut Dongwoon.
“kau mau membantu ku?” tanya Junhyung memohon.
“Aku hanya mendukungmu dari belakang, asalkan kau tidak lagi membuatnya menangis”
Junhyung terdiam sesaat mendengar jawaban Dongwoon.
“kau...menyukai nya ya?” tanya Junhyung tersenyum jahil membuat wajah Dongwoon memerah.
“Lupakanlah” jawab Dongwoon ahirnya.
“Kau rela?” tanya Junhyung mengejek dengan tertawa pelan.
“Aku rela” jawab Dongwoon membuat senyuman Junhyung menghilang.
“Serius” lanjutnya.
“Lebih baik kau beritau Chaeyoung bahwa kau sudah mengetahui semua akal-akalannya, dan cepat utarakan perasaanmu pada Chantae” lanjut Dongwoon lagi membuat Junhyung terdiam.
“Hwaiting” Dongwoon tersenyum sambil meninggalkan Junhyung yang masih terdiam.

*KEESOKAN HARINYA. CUBE HIGH SCHOOL*
Dongwoon melihat dari jauh Chaeyoung yang menangis didepan Junhyung. Junhyung terlihat sangat marah pada Chaeyoung. Terlihat jelas Chaeyoung mengatakan ‘Mianhae’ berkali-kali namun tidak membuat amarah Junhyung reda. Dongwoon merasa agak kasihan, namun bagaimanapun Chaeyoung bersalah.

Chaeyoung sangat mencintai Junhyung hingga membuat dirinya sendiri buta. Membuat dirinya terlalu egois. Membuat dirinya berani mengarang segala hal hanya demi mendapatkan cinta yang ia harapkan. Namun semua kebohongan dan keegoisannya justru membuat Junhyung benci padanya. Kini ia hanya dapat menangis menyesal.

”heh” sapa Chantae mengagetkan Dongwoon. Chantae hanya nyengir.
“Bengong aja” lanjutnya membuat Dongwoon tersenyum.
“eh iya...” ucap Dongwoon membuat Chantae memperhatikannya.
“Besok aku tidak bisa mengantarmu pulang ya” lanjutnya.
“em... waeyo?” tanya Chantae polos.
“Besok aku akan memulai operasi. Yah, mengingat penyakitku ini sudah berlangsung tiga tahun dan aku belum menjalani pengobatan apa-apa sama sekali” Jawab Dongwoon membuat air mata Chantae kembali berlinang.
“Kumohon jangan menangis” lanjut Dongwoon tidak membuat Chantae berhenti menangis.
“Jujur aku menyukaimu” lanjut Dongwoon lagi membuat tangisan Chantae semakin deras.
“Kenapa baru kau katakan sekarang?” Tanya Chantae disela tangisnya.
“Karena aku tau perasaanmu memihak pada siapa”
“Bagaimana kalau ternyata aku juga suka padamu?” tanya Chantae membuat Dongwoon diam.
“Kumohon jangan menangis. Maafkan aku” jawab Dongwoon ahirnya. Dongwoon hanya membiarkan Chantae menorobos masuk kepelukannya.

*8 TAHUN KEMUDIAN*
Chantae melangkahkan kakinya menuju sebuah gundukan tanah. Ia kemudian terduduk disamping gundukan tanah yang merupakan tempat peristirahatan Dongwoon. Operasinya delapan tahun lalu gagal dan Chantae sangat terpukul akan itu.
“Annyeong Dongwoon-ah” Sapa Chantae dengan suara bergetar menahan tangis.
“Annyeong Dongwoon-ah” Sapa seorang namja dibelakangnya yang tak lain adalah Junhyung, suaminya.
“Bagaimana kabarmu disana?” Tanya Chantae. Junhyung ikut terduduk disamping Chantae.
“Kami sangat merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu” ucap Chantae diiringi aliran air matanya. Junhyung merangkul bahu Chantae.
“Terima kasih sudah membantu kami memperbaiki hubungan kami” lanjut Chantae sambil tetap menangis.
“Dan lihatlah, kami sudah menikah” Chantae berusaha tersenyum.
“Usahamu berhasil, aku mengetahui semuanya dan ahirnya Junhyung cepat mengutarakan perasaannya padaku, seperti katamu” Chantae mengangkat sudut bibirnya yang terasa berat.
“Terima kasih banyak Dongwoon-ah. Kau yang membantuku hingga seperti ini” Ucap Junhyung ahirnya.
“Neomu neomu kamsahamnida” ucap Chantae dan Junhyung hampir bersamaan.
“Jeongmal saranghae Dongwoon-ah. Terimakasih atas segalanya” Chantae terisak. Junhyung hanya memandang peristiwa tersebut tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Chantae dan Junhyung ahirnya kembali pulang setelah meninggalkan sebuket bunga didepan batu nisan Dongwoon.
Tanpa pasangan itu ketahui, Dongwoon sedang tersenyum kearah mereka. Rasa cintanya pada Chantae tidak berkurang sedikitpun. Ia memberikan orang yang ia cintai pada orang yang lebih pantas untuk menjaganya, karena ia tau bahwa hidupnya tidak akan lama. Dan ia tau bahwa kini orang yang ia minta untuk menjaga Chantae memang benar-benar menjaga Chantae, dan Dongwoon senang akan itu. Ia senang orang yang ia cintai itu bahagia bersama orang yang tepat.

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar