Senin, 14 Mei 2012

[FF] Take Care Of My.....Friend (Part 1)


Author: Riri
Cast: -Yang YoSeob
-Lee YoonMi
-Yoon DuJun
-Other cast yang tidak disebutkan -_-
Genre: Romance, abal, tijel, koplak, amatir, gajelas
***
Ahirnya ff saya yang ke.....*ngitung* 4! selesai :') Setelah mentok inspirasi beberapa saat hohoho. Biasa deh, ini ada sedih-sedihnya. Baca aja udah-_- Awalnya saya bingung, setelah mendapatkan DooSeob sebagai main casts, peran ceweknya siapa. Dan berasal dari otak cemerlang author bawel ini pun, saya memutuskan untuk mencari nama di twitter. HAHAHAHAHA. Mianhae ya namanya saya jadikan korban disini-_-
Mianhae kalo pas baca datar-datar aja, gadapet feelnya gitu. Author amatiran.
Makasih udah mau menyumbangkan waktunya untuk membaca ff abal ini. Makasih untuk (kalo ada) para pembaca setia blog abal ini. Author abal. FF abal. Blog abal. Sempurna deh. Selamat membaca. Enjoy~^^

***

Seorang namja dengan seragam sekolah yang berantakan sedang mendribble bola basket ditangannya. Dengan terengah-engah ia berlari menuju ring tim lawannya. Namja  itu berlari dengan cepat menghindari tim lawannya yang bertubuh lebih tinggi darinya. Meskipun terbilang pendek, namja itu merupakan pemain favorite dari tim basket sekolahnya. Tidak heran ia sangat digemari para yeoja disekolahnya.

Seakan membuktikannya, namja itu melempar bola basketnya dan membiarkan bola itu meluncur bebas masuk ke ring tim lawannya. Orang-orang yang mengelilingi lapangan itu untuk menonton bersorak senang. Beberapa yeoja yang melihat kejadian itu pun ikut berteriak. Bukan karena tim yang didukungnya mencetak angka, tapi terlebih karena namja itu yang memberikan score tersebut.

Bel pulang berbunyi menandakan permainan mau tidak mau harus dihentikan. Orang-orang yang bergerumul menutupi lapangan perlahan mulai bubar.
“Nice game” sahut namja dengan nama Yoseob itu sambil tersenyum kearah teman-temannya.
“Puas maennya?” tanya seorang namja berkacamata dengan tubuh lebih tinggi dari Yoseob. Namja berkacamata itu membantu membereskan tas Yoseob.
“Kenapa sih kalo aku maen terus?” tanya Yoseob sewot.
“Kita kesekolah buat belajar, bukan buat maen-maen”
“Dujun-a... Bebaskanlah dirimu sedikit. Gak bosen apa baca bukuuuuu mulu” ucap Yoseob sambil mendempetkan sisi tangannya seperti membentuk sebuah buku.
“Yoseob-a, kita udah mau 3 tahun loh disekolah ini”
“Terus?”
“Itu artinya kita udah 3 tahun juga saling kenal sahabatkuuu”
Yoseob nyengir mendengar Dujun memakai kata ‘sahabatku’ sebagai kata ganti dirinya.
“Terus? Kita harus merayakannya gitu? Kayak orang pacaran aja” ejek Yoseob.
“Ih serius. Udah 3 tahun, tapi kita gak pernah bisa sama. Aku suka baca, kamu suka maen-maen kayak anak kecil. Sahabatan aja sama orang yang sebidang sama kamu. Biar bisa ngapa-ngapain bareng” jelas Dujun sambil memasukan buku Yoseob dengan paksa.
“Beneran jadi kayak orang pacaran deh” Yoseob melempar handuknya kewajah Dujun yang hanya dibalas cengiran Dujun.

Beberapa yeoja lewat disamping mereka. Yoseob memberikan senyum mautnya yang dapat melayangkan hati para yeoja itu. Yoseob melambaikan tangannya membuat yeoja itu berteriak kecil seperti bertemu dengan artis terkenal. Dujun menghela nafas melihat kelakuan Yoseob.
“Mau sampai kapan gitu terus?” Tanya Dujun setelah yeoja-yang-tergila-gila-dengan-Yoseob itu menghilang. Mungkin terbang karena senyuman Yoseob atau apa entahlah.
“Apaansih” cengir Yoseob.
“Kalo gitu aku tinggalin gapapa dong?”
“Sampe kamu bener-bener ninggalin aku, aku bersumpah bakal keluar dari sekolah ini” ucap Yoseob sambil menatap Dujun serius.
“Kau lemah sih. Bergantung sama orang lain terus” sindir Dujun sambil menaikkan alisnya.
“Aku tidak lemah!” elak Yoseob sambil meninju bahu Dujun pelan.
“Kamu kan tau seberapa penting kamu dalam hidup aku” lanjut Yoseob sambil menutup tasnya dan berlalu.
“Ayo makan dulu hyung~” teriak Yoseob tanpa menoleh. Dujun tersenyum sambil membenahi kacamatanya.
“Saranghaeyo!!” Teriak Dujun sambil merentangkan tangannya dan berlari merangkul pundak sahabatnya itu.

***

Seorang yeoja sedang merapikan mejanya ketika bel pulang berbunyi. Buku dan kertas-kertas soal menghiasi mejanya yang membuat kepalanya terasa pusing. Ia tidak bisa apa-apa selai menggerutu dan ingin cepat pulang. Ia berderap keluar kelas sambil mendekap buku-buku yang masih berantakan dan tas yang belum tertutup rapat.

Brak!

Yeoja itu menabrak orang didepannya hingga ia terjatuh. Bukunya jatuh berserakan. Ia menggertakan giginya. Poninya menutupi wajahnya.
“Jalannya jangan gegabah gitu kenapa!” sahut orang yang ditabraknya. Yeoja itu merasa disalahkan. Amarahnya yang mudah terpancing kini memuncak. Ia berdiri menatap orang yang menabraknya, Yoseob.
“Gausah ngoper kesalahan gitu dong!” Bentak yeoja itu.
“Heh, kamu tau gak kamu lagi bentak siapa?” balas Yoseob.
“Kamu lah!”
“Aku tadi baru aja ngalahin tim basket Daehwan nih!” Yoseob menyombongkan diri berharap yeoja didepannya itu justru kagum dengannya. Tapi yeoja itu justru berkacak pinggang.
“Oh, dan aku udah menangin pertandingan taekwondo tiga tahun berturut-turut tuh” tandas yeoja itu sambil mengangkat tiga jarinya.
“Wah, kalo kamu bentak aku kayak gitu terus, semua yeoja disekolah ini akan membencimu loh”
“Ohya? Kamu pikir kamu siapa? Artis? Oh kamu pikir aku takut? Orang sok tenar!” bentak yeoja itu sambil memasukkan bukunya kedalam tas dengan asal. Ia kemudian buru-buru menutup resleting tasnya dan berlalu pergi. Yoseob hanya menatap tajam punggung yeoja itu menjauh. Dujun disampingnya pun hanya tutup mulut.

“Udahlah, masalah sepele” Dujun menepuk pundak Yoseob.
“Kata dia aku sok tenar” ucap Yoseob dengan nada mengadu pada Dujun.
“Mangkanya kalo lagi kayak gitu jangan manfaatin ketenaran. Minta maaf, bantuin beresin buku, selesai kan”
“Hyung bukannya belain aku” ucap Yoseob cemberut.
“Tapi emang kamu tadi kayak gitu sih” cibir Dujun sambil melipat kedua tangannya menatap Yoseob dengan cengiran khasnya. Yoseob hanya meninju tangan Dujun pelan dan berjalan menuju kantin. Dujun yang ingin menyusul Yoseob langkahnya tiba-tiba terhenti. Diambilnya benda yang tidak sengaja ia tendang itu. Sebuah buku dengan sampul biru muda. Disampulnya terdapat sebuah nama yang sepertinya ditulis dengan spidol. Lee YoonMi. Dujun menengok belakang dan ternyata yeoja yang tadi berdebat dengan Yoseob itu sudah menghilang. Dujun tersenyum simpul melihat sampul buku itu begitu polos. Biasanya, sampul buku yeoja-yeoja sudah dipenuhi ornamen bunga-bunga atau hiasan lainnya. Dujun kemudian memilih untuk membawa pulang buku itu dan menyerahkannya besok.

***

Yoonmi sedang merapikan lokernya ketika Dujun datang menghampirinya. Yoonmi mendengus malas dan menutup lokernya sambil menatap Dujun dengan tatapan mau-apa-kau. Dujun menyerahkan buku yang Yoonmi kenal. Bukunya sendiri.
“I’m pretty sure it was yours” Dujun menyerahkan buku yang ia temukan kemarin. Dujun hanya tertawa melihat Yoonmi yang justru bengong.
“Haha, ini punya kamu kan? Gak kebawa kemaren” Dujun tersenyum. Yoonmi menerima buku ditangan Dujun dengan ekspresi bingung.
“Terimakasih” ucap Yoonmi ahirnya. Dujun tersenyum.
“Maafkan temanku kemarin ya” ucap Dujun.
“Ah temanmu itu ya? Siapa namanya itu?”
“Yoseob”
“Ah dia, jangan sok tenar deh dia”
“Iya, maafin dia ya” Dujun melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Yoonmi yang hanya menatapnya menjauh. Tanpa sadar, Yoseob menghampirinya.

“Heh” sapa Yoseob mengagetkan Yoonmi. Yoonmi membuka pintu lokernya dan berpura sibuk, berharap Yoseob segera pergi dari pandangannya.
“Emang sopan ya kayak gitu?” ketus Yoseob. Yoonmi hanya mendengus kesal tanpa menutup lokernya.
“Maaf deh soal kemaren” lanjut Yoseob membuat Yoonmi menutup loker dan menguncinya dengan malas.
“Ku traktir deh” lanjut Yoseob lagi yang kali ini membuat Yoonmi menoleh antusias.
“Langsung deh seneng” sindir Yoseob menyadarderkan punggungnya.
“Sebegitunya?” Yoonmi menatap Yoseob mengejek.
“Abis kamu keliatannya marah banget”
“Beneran ya?”
“Iya, pulang sekolah nanti. Makan deh sampe perut kamu pecah juga. Daaah~” Yoseob kemudian berlalu setelah melambaikan tangan yang terlihat angkuh dimata Yoonmi, tapi ia tidak peduli.

***

Yoonmi duduk dikursi paling ujung, setelah bel pulang berbunyi, Yoonmi langsung berderap menuju kantin. Menurutnya, tawaran Yoseob ini kesempatan emas untuk menghemat uangnya.
Setelah 10 menit menunggu, Yoseob ahirnya datang dan duduk didepan Yoonmi.
“Mau pesen apaan cepetan” perintah Yoseob. Yoonmi membeli semangkuk ramen.
“Itu doang?” tanya Yoseob melirik mangkuk ramen ditangan Yoonmi dengan angkuh.
“Yaa sebenernya aku masih bisa pesen bbimbap, tteokpokki, kimchi kalo perlu, tapi aku gatega” jawab Yoonmi tidak mau kalah.
“Dasar perut karet” ejek Yoseob kemudian segera membeli banyak makanan. Yoonmi sampai bertepuk tangan karena Yoseob bisa menghabiskan semuanya. Yoseob meregangkan ototnya setelah mangkuk terahirnya tandas, sedangkan Yoonmi berdecak kagum.
“Ah...” Yoseob segera berdiri.
“Heh, mau kemana?” Yoonmi sontak berdiri dan menahan pundak Yoseob.
“Mau ke toilet, mau ikut?” tanya Yoseob mengejek. Yoonmi hanya mencibir dan kembali duduk.
“Cepetan” ketus Yoonmi. Yoseob pun berlalu.

Sudah setengah jam Yoonmi menunggu, tapi Yoseob belum juga menunjukan batang hidungnya. Tiba-tiba seorang petugas kantin menghampirinya dan meminta bayaran makanannya. Yoonmi masih mampu membayar makanannya, tapi makanan Yoseob? Dengan terpaksa Yoonmi membayarkan makanan Yoseob. Ia mendengus kesal sambil keluar kantin. Pada saat itulah Yoseob baru muncul dihadapannya.

“Loh? Udah mau pulang?” tanya Yoseob tanpak tidak tau apa-apa.
“Tauah”
“Kau yang bayar? Waaah makasih yaa” ucap Yoseob menahan tawanya. Yoonmi hanya menatap Yoseob seakan mengeluarkan laser dari matanya. Yoseob terbahak.
“1-0” ucap Yoseob sambil meninggalkan Yoonmi.
“begitu maumu huh? baiklah” gumam Yoonmi.

***

Yoonmi sedang mencoret-coret halaman belakang buku tulisnya ketika Jongwoo, ketua kelasnya, menggebrak meja guru. Spontan semua anak dikelas itu menoleh pada namja bertubuh tinggi itu. Jongwoo tersenyum melihat reaksi teman-temannya.
“Jadi begini....” Jongwoo memulai. Satu kelas itu hening.
“Sehubung dengan semakin dekatnya ulang tahun sekolah, Hyejun sonbaenim meminta 3 orang dari kelas ini untuk ikut memeriahkan acara.” lanjut Jongwoo.
“Dan 3 orang itu tentunya sudah dipilih. Tapi, kalian, 3 orang terpilih ini akan berpasangan dengan murid dari kelas lain. Orang-orang yang jadi pasangan kalian ini pun sudah dipilih, soal udah dikasih tau apa belum, aku gatau” Jongwoo menatap wajah teman-temannya perlahan. Terlihat wajah penuh harap teman-temannya yang membuat Jongwoo harus menahan tawa.

“3 orang itu adalah, Park Chanhye dengan Lee Gunwoo dari 3C...” Junwoo menahan kalimatnya. Beberapa anak mulai berbisik-bisik dan memberkan semangat.
“Shin Hyunjae dengan Son Daegwan dari 3D....” Junwoo menyipitkan mata untuk membaca nama terahir. Murid satu kelas itu masih menatapnya penuh harap.
“Dan Lee Yoonmi dengan Yang Yoseob dari 3A”
“HAH?!?!” Spontan semua murid dikelas itu tertawa mendengar teriakan Yoonmi. Junwoo tertawa pelan.
“Kalo ada yang mau undur diri boleh tunjuk tangan sekarang kok. Biar dibatalin.” jelas Junwoo tersenyum membuat Yoonmi langsung mengangkat tangannya.
“Aku boleh undur diri?” tanya Yoonmi berharap.
“Gak boleh” Junwoo tersenyum simpul dan kembali ketempat duduknya. Kelas kembali tertawa mendengar jawaban Junwoo. Yoonmi mencibir kearah ketua kelasnya itu.

Bel istirahat berbunyi. Kelas mulai kosong, tapi Yoonmi tidak bisa beranjak dari tempat duduknya. Terlintas dipikirannya tentang project bersama Yoseob. Wajah angkuh Yoseob yang menyebalkan terlintas dipikirannya. Bayangan tentang Yoseob yang akan menyuruh-nyuruhnya secara paksa, dengan menggunakan cabuk, dan Yoseob yang tertawa penuh kemenangan melihatnya tersiksa, semuanya muncul dalam pikirannya.

“Gimana jadinya ini? Aku harus undur diri dong daripada si pesek itu menjatuhkanku terus. Oh tidak tidak, kalau aku undur diri, kesempatan buat bales dendam akan menipis. Aku harus ikut terus. Kalaupun hasil kelompokku ini jelek, biarlah si pesek itu disalahkan Hyejun sonbaenim. HAHAAAAA LIHAT SAJA YAAAAA” Yoonmi menggebrak mejanya. Tiba-tiba saja ia menemukan ide untuk membalas Yoseob. Yoonmi membeli segelas jus strawberry dan memberikan sedikit saus kedalamnya. Dengan wajah evil, Yoonmi melangkah menuju kelas Yoseob.

Yoseob dan Dujun sedang mengobrol didepan kelas. Yoonmi menghampiri mereka sambil membawa ‘jus strawberry’ ditangannya
“Oh hai pasanganku” sapa Yoseob yang ternyata sudah tau.
“Mau bikin apa buat acaranya?” Tanya Yoonmi berbasa basi sambil berpura-pura akan meminum jus racikannya. Yoseob melirik gelas ditangan Yoonmi dan merebutnya. Seperti rusa yang menghampiri singa, Yoseob meminum jus itu. “Gotcha!” Yoonmi berteriak dalam hati.
Yoseob langsung terbatuk setelah meminum jus itu, Yoonmi menahan tawa.
“Apaan nih?!” teriak Yoseob
“Jus strawberry lah” jawab Yoonmi seakan tidak tau apa-apa. Yoseob melirik kedalam gelas.
“Apaan nih? Saos? Ih!” teriak Yoseob membuat tawa Yoonmi pecah.
“1-1” ejek Yoonmi mengacungkan telunjuknya membuat angka satu.
“Awas kau ya” ancam Yoseob dengan menatap Yoonmi tajam. Ia kemudian melirik Dujun yang bersusah payah menahan tawa.
“Hyung jadi menertawakanku sih!” teriak Yoseob sewot membuat tawa Dujun mau tidak mau ahirnya pecah.
“Ah, ah, ya, mianhae” ucap Dujun sambil menghentikan tawanya.
“Oke, silahkan omongin urusan kalian deh, daah~” Dujun membenahi kacamatanya dan meninggalkan Yoseob dan Yoonmi yang masih saling memberikan tatapan laser.

“Sepulang sekolah nanti langsung kerumahku” perintah Yoseob membuat Yoonmi mengangkat alisnya.
“Heh, kita kan pulang jam 7, apa gak kurang malem?” protes Yoonmi.
“Acaranya hari jumat, kau mau dipancung Hyejun sonbaenim? Aku sih ogah”
“Sekarang hari senin, masih 4 hari lagi! Empat!”
“Belom bikin acaranya. Belom mikirin mau mempersembahkan apa. Apa lagi kalo kamu masih kayak anak kecil gini. Sebulan gabakal selesai!”
“Oke! Oke! Kali ini beneran loh ya”
“Beneran kok, nanti kamu langsung bareng aku aja kalo gapercaya”
“Naik mobil kan?”
“Ngesot”

***

Yoseob memperhatikan Yoonmi yang sibuk memainkan PSPnya. Sejam yang lalu, ia dan Yoonmi baru saja sampai dirumah Yoseob. Yoonmi terkagum melihat kamar Yoseob yang mewah, dan begitu melihat PSP, dia pun kembali sibuk dengan dunianya.
“Gimana kalo ngasih musik aja, apaan kek, nyanyi atau apa” usul Yoseob membuat Yoonmi menoleh. Yoonmi ahirnya mematikan PSP yang dari tadi ia mainkan. Yoonmi duduk didepan piano Yoseob. Yoseob sendiri hanya memperhatikannya.

Perlahan tangan Yoonmi mulai bermain dengan tuts-tuts piano. Alunan musiknya mulai mengalir. Dentingannya membuat Yoseob terpaku. Meskipun Yoseob biasa memainkan piano, atau mendengarkan Dujun memainkan piano, ia belum pernah mendengar yang sehalus permainan Yoonmi. Image Yoonmi-yang-pecicilan-dan-kayak-anak-kecil sejenak hilang dari mata Yoseob. Sampai ahirnya Yoonmi menoleh dan membuat pikiran Yoseob kembali sadar.
“Keren kan” ucap Yoonmi nyengir. Yoseob hanya mengangguk.
“Oke gajadi kagum” ucap Yoseob sambil membalikkan punggung.
“Oooh jadi daritadi kamu kagum toh” Yoonmi menuduh.
“Nanti kamu main itu ya” perintah Yoseob membuat Yoonmi mengangguk. Keheningan menyeruak sejenak.

“Eh...” Yoonmi memulai. Yoseob hanya menoleh.
“Orang tua kamu kemana?” Tanya Yoonmi. Yoseob menghebuskan nafas dan tersenyum simpul.
“Pengen tau banget?”
“Serius nih”
“Udah cerai. Terus appaku pergi deh, dia cuma ngehidupin aku dari jauh, Cuma transfer uang tiap bulan, ummaku juga gamau ngasih tau dimana appa sekarang. Kalo umma sekarang lagi kerja” Yoseob tidak biasanya memberitau masalahnya pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya, itu sebabnya hanya Dujun seorang yang tau persis masalah Yoseob, tapi entah kenapa ia merasa Yoonmi orang yang bisa dipercaya.
“Kekayaan gak menjamin kebahagiaan” lanjut Yoseob. Yoonmi mendadak menyesal telah menanyakan hal itu.

“Udah jam setengah 9 loh” ucap Yoseob menatap Yoonmi.
“Ah iya” Yoonmi segera membereskan tasnya dan beranjak pulang.
“Annyeong, sampai jumpa besok” ucap Yoonmi sambil berlalu. Yoseob tiba-tiba terlonjak.
“Eh, mau kuantar?” tawar Yoseob. Yoonmi mengangguk senang.
“Tumben baik haha” Canda Yoonmi.
“Gajadi nganter deh” ketus Yoseob meskipun sambil mengambil kunci mobilnya.

***

Dujun menghampiri Yoseob yang baru akan melahap sekotak biskuit.
“Bagaimana kemarin?” Tanya Dujun sambil mengambil kotak biskuit dari tangan Yoseob.
“Dia jago main piano loh hyung!” jawab Yoseob menggebu-gebu. Duju tersenyum.
“Lebih jago dari aku dong?” canda Dujun
“oooh, hyung tetap pianist favorite ku”
“Ah hyung, aku punya ini dong” Yoseob mengeluarkan ular karet dari tasnya.
“Buat apaan?” Tanya Dujun sambil mengambil ular karet dari tangan Yoseob dengan aneh.
“Liat aja nanti. Haha, dia pasti kaget” jawab Yoseob menyeringai jail.

Yoseob kemudian menarik tangan Dujun keluar kelas. Dujun hanya mengikuti Yoseob. Langkah Yoseob terhenti didepan kelas Yoonmi, sedangkan Dujun hanya mengamati dari belakang. Yoseob memanggil Yoonmi yang membuat Yoonmi menoleh.
“Apa?” Tanya Yoonmi ketus.
“Pulang sekolah nanti latian lagi ya” Yoseob basa-basi.
“Iya iya udah tau” jawab Yoonmi malas sambil membalikkan badan untuk pergi, tapi Yoseob menahan Yoonmi dan melemparkan ular karetnya kearah wajah Yoonmi. Tidak seperti dugaan Yoseob, Yoonmi hanya membiarkan ular karet itu jatuh dengan wajah datar. Kini Yoseob yang kaget. Dujun sendiri menahan tawa dibelakang Yoseob.
“Yah gagal” ejek Yoonmi terkekeh. Yoseob mencibir.
“2-1” ejek Yoonmi lagi sambil berlalu pergi.

Yoseob mengambil ular karet dilantai dengan malas. Ia melirik Dujun yang terkekeh pelan. Dilemparnya ular karet itu kearah Dujun. Dujun hanya mengikuti Yoseob yang mulai membalikan badan.
Belum jauh mereka pergi, tiba-tiba Yoonmi menghampiri Yoseob. Yoseob yang melihat Yoonmi mendekat menghentikan langkahnya, sedangkan Dujun hanya melirik dan terus berjalan.
Belum sempat Yoonmi bicara, sekelompok yeoja dengan surara beroktaf tinggi melewati mereka. Dengan senyum mautnya, Yoseob membuat yeoja-yeoja itu terkikik. Yoonmi diam-diam merasa muak. Ia memperagakan orang yang sedang muntah dengan tangannya.
Setelah yeoja-yeoja itu pergi, Yoseob kembali melirik Yoonmi. Image Yoseob berwajah imut tanpa dosa mendadak hilang digantikan Yoseob yang seram, menyebalkan, dan cerewet.
“Nanti latian dimana?” Tanya Yoonmi datar.
“Ruang musik aja” jawab Yoseob santai. Yoonmi membayangkan kalau dia berada di ruang musik yang sepi, langit luar mulai gelap, ditambah lagi dengan Yoseob, mimpi buruk. Tapi mau tidak mau Yoonmi ahirnya mengiyakan.

*TO BE CONTINUED*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar