Author: Riri
Cast: -Yang YoSeob
-Lee YoonMi
-Yoon DuJun
-Other cast yang tidak disebutkan -_-
Genre: Romance, abal, tijel, koplak, amatir, gajelas
***
Yup. Seperti yang anda lihat, ff ini 2 part. Ini part ke-2. Entah karena berasal dari otak bening saya, tiba-tiba inti cerita yang singkat bisa saya kembangkan menjadi dua part! *tepuk tangan*
Gasabar kelanjutannya kan? Gasabar kan? Gasabar kan? *ditimpukin* Ok, I present to you....the second part. (<--Yang gangerti, ini artinya dilarang tidur sambil melek)
Selamat melanjutkan~^^
***
Yoonmi berlari ke ruang musik. Tadi kelasnya diberikan kelas tambahan mendadak selama 1 jam, jadi keluar lebih lama dari kelas lain. Yoonmi yakin Yoseob sudah lama menunggu di rang musik, apalagi dengan langit yang sudah gelap dan keadaan sekolah yang sudah sangat sepi, besar kemungkinan Yoseob sudah tidak ada di ruang musik.
Yoonmi membuka pintu ruang musik dengan paksa. Dilihatnya Yoseob sedang menggunakan headset dan terduduk dilantai.
“Lama banget” protes Yoseob seperti dugaan Yoonmi.
“Tadi ada kelas tambahan, jadi lama gini deh” jelas Yoonmi namun tidak didengar Yoseob.
“Yaudah maenin deh tuh piano” perintah Yoseob sambil menunjuk piano disebelahnya.
Yoonmi mulai mengadukan jarinya dengan tuts piano. Yoseob melepas headsetnya dan memperhatikan Yoonmi sampai alunan musik itu berhenti.
“Maenin lagi” perintah Yoseob masa bodo.
“Aku mulu. Kamu bisa apa?” protes Yoonmi. Yoseob memiringkan kepala. Ia terduduk disebelah Yoonmi dan memainkan piano. Yoonmi diam-diam kagum dengan permainan piano Yoseob, terlebih lagi dengan suara lembut Yoseob yang mulai menyanyi.
“Andwae, doneun andwae
Imaleul hagiga nan duryeowo
Geuraeseo neol motbongeoya
Urin andwae, Jeongmal andwae
Eochapi saranghaeseon andwineun geol ara
Ijesoya saranghaettneunde, neol saranghaettneunde”
Hening...
“Liatin apa?” suara Yoseob menyadarkan lamunan Yoonmi.
“Ng..nggak...” jawab Yoonmi susah payah.
“Terpesona ya? Hahaaa”
Yoonmi hanya mencibir mendengar kata-kata Yoseob...meskipun memang benar.
“Pulang yuk” ajak Yoonmi membuat Yoseob bangkit membereskan tasnya dan mengambil kunci mobil. Langkah Yoseob dan Yoonmi terhenti diambang pintu sekolah karena hujan deras mengguyur saat itu juga.
“Tunggu reda aja” ucap Yoseob sambil berbalik.
“Tapi ini udah gelap bangeeet! Didalem juga udah gaada siapa-siapa lagi!” protes Yoonmi.
“Daripada besok jadi sakit?” protes Yoseob tidak mau kalah.
“Tapi ini udah gelaaap” Yoonmi memberi alasan dengan tatapan memohon. Yoseob berdecak dan mengeluarkan jaketnya.
“Yaudah sini!” Yoseob membuka jaketnya dan menarik Yoonmi kepelukannya menerobos hujan. Dekapan Yoseob membuat Yoonmi menahan nafas, bukan karena terlalu erat, tapi karena detak jantungnya yang tiba-tiba tidak beraturan. Berada didekat Yoseob membuat Yoonmi tidak merasakan dinginnya hujan. Perlahan perasaan yang seharusnya Yoonmi rasakan pada orang yang ia sukai tumbuh. Apa ini perasaan pada Yoseob? Yoonmi harus cepat menghilangkannya.
***
Acara ulang tahun sekolah 2 hari lagi. Beberapa kelompok yang lain sudah siap jika disuruh tampil saat itu juga, sedangkan Yoseob dan Yoonmi masih bingung akan mempersembahkan lagu apa. Dujun pun ikut memberi usul, meskipun ahirnya hanya berahir dengan pertimbangan-pertimbangan.
Yoseob, Dujun, dan Yoonmi duduk melingkari meja dibagian pojok ruang perpustakaan. Sudah sejam lebih mereka duduk disana, tapi belum menentukan lagu yang dipilih. Tangan Yoonmi sempat terkilir, sehingga tidak bisa main piano.
Yoseob tiba-tiba memecah keheningan dengan menggebrak meja.
“Aku keluar bentar. Mau nyari angin!” Yoseob kemudian berjalan dengan lesu. Dujun merasa kasihan melihat punggung Yoseob menjauh, seperti sedang mendapatkan beban yang sangat berat. Ia yakin masalah berat itu bukan karena tugas kelompoknya, tapi karena masalah lain, mungkin masalah dirumahnya.
“Gara-gara tangan aku gini ya, dia jadi stress gitu” ucap Yoonmi membuat Dujun menoleh.
“Bukan kok, masalah lain pasti” Dujun menenangkan Yoonmi.
“Oh, dirumahnya ya?”
“Kamu udah tau?”
“Udah, waktu itu Yoseob ngasih tau”
“Oya? Ke kamu? Gak biasanya loh dia cerita-cerita ke orang selain aku”
“Iya? Kok dia cerita ke aku?”
“Kemungkinan dia jatuh hati sama yang kamu lakuin sebelumnya” ucap Dujun tersenyum. Yoonmi lantas teringat ketika ia bermain piano dirumah Yoseob. Wajah Yoonmi memerah. Dujun yang melihat itu kemudian paham dan menggenggam tangan Yoonmi.
“Tolong jagain Yoseob ya. Yoseob emang sering jatuh cinta karena hal kecil yang ceweknya lakuin, tapi dia sering malah disakitin lagi sama cewek itu. Kamu jangan gitu ya” Cerocos Dujun memberikan tatapan memohon. Ocehan Dujun itu hanya dibalas Yoonmi dengan tatapan bingung, entah mengapa, tapi dada Dujun berdesir melihat tatapan Yoonmi.
Tiba-tiba seorang namja menatap Dujun dan Yoonmi dengan pandangan tidak percaya.
“YA!!! Hyung!! Jadi begini?” Teriak namja itu yang merupakan Yoseob dengan wajah merah menahan amarah. Yoseob sendiri tidak mengerti mengapa amarahnya memuncak ketika melihat sahabatnya itu berpegangan tangan dengan Yoonmi.
“Hyung nusuk aku dari belakang. Aku ganyangka hyung bakal ngelakuin ini. Jujur aku gapernah kepikiran kayak gini samasekali! Makasih. Aku mau pulang. Annyeong” bentak Yoseob sambil mengambil tasnya dan beranjak pergi. Dujun yang baru tersadar segera melepaskan tangan Yoonmi.
“Apa dia gabakal kenapa-kenapa?” Tanya Yoonmi ragu.
“Pasti kenapa-kenapa. Dia sekarang lebih sering bawa motor. Dan deket parkiran motor itu banyak sonbaenim yang suka iri sama dia. Tautuh bakal diapain” jelas Dujun terlihat pasrah. Yoonmi hanya menghela nafas dan berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Yoseob. Menyadari perpustakaan yang sudah sepi, Dujun dan Yoonmi ahirnya memutuskan untuk pulang.
***
“Aku ganyangka Dujun hyung kayak gitu. Jadi selama ini dia suka Yoonmi huh? Oke aku emang terlalu egois ngelarang hyung suka sama Yoonmi, tapi gak bisa kah hyung mikirin perasaan aku? Bisa ya Dujun hyung nusuk aku dari belakang”
Pikiran itu berputar dikepala Yoseob sedangkan kakinya masih berjalan menuju parkiran motor. Tiba-tiba gerombolan laki-laki yang berjumlah 5 orang menghalangi langkahnya.
“Waeyo?” Tanya Yoseob berusaha sopan.
“Oooh, jadi kau yang namanya Yoseob? Imut sekalii” komentar salah seorang dari gerombolan yang merupakan senior-senior yang biasa membully adik kelas yang tenar agar mereka lebih tenar. Yoseob menangkis tangan namja itu kasar.
“Kau ini hanya modal tampang, tapi otak kosong” ejek orang yang paling belakang dan diberikan anggukan oleh teman-temannya.
“Muka kamu imut banget, pasti heboh deh kalo sampe besok udah babak belur” ketus orang yang paling depan dari gerombolan itu sambil melayangkan tinjunya ke pipi mulus Yoseob. Pukulan keras itu membuat Yoseob tersandar kedinding. Posisi itu semakin membuat senior-seniornya leluasa untuk menghajar Yoseob. Senior yang berdiri paling depan kembali melayangkan tinjunya hingga berkali-kali, sedangkan teman-temannya tertawa senang melihat darah segar mengalir dari hidung dan mulut Yoseob.
Saat senior itu akan melayangkan tinjunya untuk kesekian kalinya, sebuah tangan menangkap kepalan itu. Dujun. Dengan amarah memuncak, Dujun menghajar senior didepannya itu. Teman-teman yang lainnya mulai menyerang Dujun, tapi Dujun dengan mudah mengalahkan mereka hingga ahirnya para senior itu pergi.
“Awas kau nanti!” teriak salah satu senior itu sambil menjauh. Dujun hanya menatapnya dingin. Dujun menoleh kebelakang dan mendapat Yoseob sedang tersandar lemas.
“Untung hyung dateng, kalo nggak mungkin aku udah babak belur” ucap Yoseob sambil berusaha berdiri normal.
“Kamu udah babak belur” jawab Dujun sambil menghapus darah diwajah Yoseob.
“Gomawo hyung” ucap Yoseob dengan suara bergetar dan tersaruk kepelukan Dujun. Dujun membalas pelukan sahabatnya itu.
“Mau makan?” tanya Dujun tersenyum simpul membuat Yoseob mendongak dan mengangguk senang.
***
Yoseob dan Dujun duduk disebuah restoran kecil, memakan sepiring kentang goreng yang dipesan 20 menit yang lalu, dalam keheningan.
“Jadi, kamu suka Yoonmi ya?” tanya Dujun memulai pembicaraan. Yoseob memandang Dujun dengan tatapan polos yang dapat membuat hati para wanita beterbangan.
“Molla” jawab Yoseob singkat sambil kembali memakan kentang gorengnya.
“Jujur aja deh” desak Dujun.
“Hm... Mungkin...iya hyung! Aku menyukainya!” jawab Yoseob tiba-tiba bersemangat.
“Hyung....juga suka dia ya?” tanya Yoseob berhati-hati. Dujun menggigit bibirnya, tidak tau akan menjawab apa. Keheningan yang canggung menyeruak sesaat.
“Mungkin. Menurutku dia menarik” jawab Dujun ahirnya sambil melempar pandangan kelar jendela. Yoseob mengangguk. Wajahnya berubah kecewa. Tiba-tiba ia berdiri sambil membawa tasnya.
“Tapi hyung, aku menyukainya. Mungkin....sangat. Aku mungkin akan disakiti lagi, tapi, entah apa yang membuatku percaya padanya. Mianhae hyung, aku memang egois. Terimakasih” ucap Yoseob dengan nada agak keras dan berlalu pergi sambil mengambil sepotong kentang goreng lagi. Dujun hanya dapat menghela nafas. Mau tidak mau ia harus menghilangkan perasaannya.
Yoseob sudah menghilang sekitar 10 menit yang lalu, tapi kata-kata Yoseob masih berkecamuk dikepala Dujun. Langit sudah sangat gelap. Restoran itu pun sudah akan mulai tutup. Hanya tinggal beberapa orang yang mabuk yang masih duduk disana. Merasa agak takut, Dujun ahirnya memutuskan untuk pulang. Ia menyebrang jalan dengan langkah gonta. Pikirannya tidak fokus.
Tiba-tiba sesuatu sedang menghampiri samping Dujun dengan cepat. Dujun menoleh dan hanya melihat cahaya yang begitu terang. Dujun mencoba fokus untuk melihat benda itu, tapi seketika ia tidak sadarkan diri.
***
Yoseob terduduk lemas dikursinya. Kelas sejak tadi belum dimulai karena guru-guru yang rapat, dan para staf sekolah yang sibuk ntuk mempersiapkan acara ulang tahun sekolah besok. Beberapa murid sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya serius, tapi Yoseob tidak peduli.
Pikirannya melayang pada kejadian semalam dengan Dujun. Ia tau ia terlalu egois bahkan pada sahabatnya sendiri. Ia tidak bisa melepaskan Yoonmi, tapi ia juga tidak ingin melihat sahabat seumur hidupnya itu sakit hati. Tiba-tiba Yoseob baru ingat ia belum melihat Dujun sepanjang hari ini.
Disaat sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba seorang senior menghampiri kelasnya.
“Mohon perhatiannya!” teriak sonbaenim bertubuh tegap itu sambil menggebrak meja membuat seisi kelas hening.
“Berhubung dengan kesibukan untuk besok, sekarang kalian boleh pulang, dan besok sangat diharapkan untuk datang, terutama yang emang dapet tugas” sonbaenim itu kemudian berlalu pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Seisi kelas mendadak riwuh. Yoseob sendiri membereskan tasnya dengan malas. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan 2 orang teman dibelakangnya.
“Eh, Dujun kenapa sih? Heboh banget kayakya”
Mendengar nama sahabatnya disebut, Yoseob memasang telinga baik-baik.
“Dia kecelakaan semalam. Katanya sih sampe parah banget. Gatau deh ‘banget’nya itu separah apa”
DEG!
“APA?!?!” teriak Yoseob refleks menghadap kedua temannya itu.
“Iya, kamu baru tau? Setauku kamu yang paling deket sama dia” komentar salah satu temannya itu yang hanya dibalas tatapan panik Yoseob.
Tanpa pikir panjang Yoseob langsung bergegas keluar kelas. Tanpa sengaja ia bertemu Yoonmi.
“Yoonmi-a! Dujun...” nafas Yoseob tiba-tiba seperti tersendat melihat wajah Yoonmi
“Iya aku juga mau kesana!” ucap Yoonmi dengan nada panik.
“Kamu tau dimana dia sekarang?” tanya Yoseob panik.
“Dirumah sakit”
“Rumah sakit kan banyak!”
“Aku udah cari tau, pabo! Ayo cepet” perintah Yoonmi sambil menarik Yoseob.
***
Yoseob dan Yoonmi sudah berdiri didepan ruang rawat Dujun setelah perjalanan yang begitu hening. Umma Dujun yang menyadari kehadiran Yoseob dan Yoonmi menoleh dan tersenyum. Sangat terlihat bahwa ia sedang terpukul. Yoseob dan Yoonmi menghampiri umma Dujun perlahan.
“Annyeong ahjumma” ucap mereka hampir bersamaan sambil membungkukkan tubuh.
“Annyeong” sapa umma Dujun ramah. Yoseob tidak dapat melepas pandangannya dari tubuh Dujun yang terbaring lemas dikasur, terlebih dengan mata yang tertutup.
“Kata dokter masih koma” jelas ummanya kemudian mohon permisi untuk keluar sebentar. Yoonmi tersenyum untuk mempersilakannya. Yoonmi kemudian memandang punggung Yoseob yang sedang berdiri disamping Dujun. Terlihat begitu rapuh.
“Hyung, bangun!” perintah Yoseob pada Dujun.
“Pabo hyung! Kubilang bangun!” ucap Yoseob lagi menaikkan nada suaranya sambil mulai menitikkan air mata. Kakinya tidak kuat menopang tubuhnya sehingga ia berlutut disamping tubuh Dujun yang terbaring lemah.
“Hyung kumohon bangunlah! Iya, hyung benar. Aku lemah hyung! Aku lemah! Sangat lemah! Aku masih bergantung padamu. Hyung akan menjagaku kan? Hyung akan menjaga aku yang lemah ini kan? Hyung sendiri yang bilang aku lemah!” air mata Yoseob tidak terbendung. Yoonmi pun yang daritadi hanya menyaksikan pemandangan itu tidak dapat menahan air matanya dan membalikkan punggung untuk mengalihkan pandangan.
“Pabo hyung!” lanjut Yoseob sambil terus menangis dan membenamkan wajahnya di kasur Dujun.
“Siapa yang pabo hah?” tanya sebuah suara lemah membuat Yoonmi dan Yoseob refleks menoleh ke arah Dujun. Dujun yang melihat ekspresi teman-temannya hitu hanya tertawa pelan.
“YA!! Hyung!!” teriak Yoseob sambil memukul kepala Dujun pelan. Yoonmi tersenyum senang karena Dujun sudah bangun.
“Kubilang, siapa yang pabo? Pabo!” canda Dujun membuat Yoseob tidak bisa menahan untuk memeluknya.
“Kalian kok udah pulang?” Tanya Dujun.
“Dipulangin. Gara-gara buat besok” Jawab Yoonmi membuat Dujun mengangguk.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Umma Dujun. Wanita itu tersenyum lega melihat Dujun sudah bangun.
*KEESOKAN HARINYA*
Halaman belakang sekolah penuh dengan murid-murid yang berhulu-hilir. Langit saat itu sudah gelap. Acara ulang tahun sekolah sudah dimulai sejak sejam lalu. Yoseob hanya duduk bersama Yoonmi, ditengah keramaian, tapi merasa sepi karena tanpa kehadiran Dujun. Yoseob dan Yoonmi pun sudah mempersembahkan hasil latihannya. Yoonmi bermain piano dengan baik, dan Yoseob menyumbangkan suara emasnya dengan lagu ‘No’. Mereka pun sudah menyiapkan videonya agar Dujun bisa melihat penampilan mereka. Yoseob berencana untuk memberikan video itu sepulang dari acara ini, Yoonmi yang mengetahui rencana itu pun memaksa untuk ikut yang disetujui Yoseob.
Tiba-tiba handphone Yoseob berdering. Tidak hanya Yoseob, Yoonmi pun ikut menoleh.
“Yeoboseyo?” sapa Yoseob. Tiba-tiba wajahnya berubah panik. Yoonmi yang melihatnya pun ikut panik.
“Ne ahjumma!” ucap Yoseob sambil menutup telfon. Yoonmi memasang pandangan ‘ada apa’.
“Tempurung kepala Dujun retak. Ke rumah sakit sekarang!”
***
Yoseob dan Yoonmi berada dikamar rawat Dujun dengan panik.
“Baru ketauan tadi sama dokter. Darahnya menggumpal didalem kepala. Mangkanya pas kecelakaan kepala dia gak berdarah. Dan itu...sangat bahaya.” jelas umma Dujun. Yoonmi menggigit bibir untuk menahan tangis.
“Sekarang dia tidur, gara-gara pengaruh obat mungkin” lajut umma Dujun.
“Eungh....” suara erangan lemah keluar dari bibir Dujun yang teertutup rapat.
“Umma....” ucap Dujun mulai membuka matanya. Tubuhnya terasa seperti melayang. Seperti akan pergi. Dujun menoleh dan melihat Yoseob dan Yoonmi.
“Yoseob-a... Yoonmi-a.... kalian datang” ucap Dujun perlahan berusaha untuk tersenyum. Yoseob sebisa mungkin menahan tangis, sementara Yoonmi sudah tidak bisa membendung air matanya.
“Hyung.....kita kesepian hyung tidak datang” ucap Yoseob.
“Kita juga udah tampil. Dan kita udah rekam, biar hyung bisa liat juga” lanjut Yoseob mulai menitikkan air mata.
Dujun menerima handy-cam dari tangan Yoseob dan menonton video yang Yoseob maksud.
“Andwae doneun andwae
Imaleul hagiga nan duryeowo
Geuraeseo neol motbongeoya
Urin andwae Jeongmal andwae
Eochaphi saranghaeseon andwineun geol ara
Ijesoya saranghaettneunde neol saranghaettneunde
Nan. Nan geujarie-seo neol bonaeneunge aniyeottdago malhaesseumyeon
Doraseoseo neol butjabgo nan andwindago
Jabattdeoramyeon
Jeongmal saranghaesseultende~ ~ ~”
Suara Yoseob dan alunan piano Yoonmi membuat Dujun tersenyum.
“Gomawo. You guys are the best” komentar Dujun mengembalikan handy-cam Yoseob setelah videonya selesai.
“Sakiiiiiit” erang Dujun tiba-tiba.
“Mianhae... Maafin Dujun selama ini ya. Mungkin...Cuma sampai disini” rintih Dujun.
“Kamu bilang apa? Kamu gak akan kemana-mana” ucap Yoonmi sambil terus menangis.
“Mianhae...aku...harus per...gi” ucap Dujun terbata.
“Pabo hyung! Hyung gak akan kemana-mana! Hyung bilang kan aku masih lemah! Aku masih bergantung pada hyung! Hyung gak boleh pergi!” Protes Yoseob tidak bisa menahan air mata.
“Umma..... Gomawo. Makasih udah hidupin Dujun selama 18 tahun. Dujun sayang Umma. Dujun harus nyusul Appa sekarang” Wajah Dujun memucat. Bibirnya memutih. Kulitnya mulai dingin.
“Yoseob-ah. Makasih udah mau jadi sahabatku selama ini. Mian, aku harus pergi. Belajarlah bela diri dari Yoonmi. Masa kamu kalah dari dia?” Dujun tersenyum.
“Jaga dirimu baik-baik ya. Kamu tidak lagi lemah. Dan..... Take care of my.........” nafas Dujun tersendat.
“..........friend” lanjut Dujun. Yoseob menggenggam erat tangan Dujun sambil terus menangis.
“Dan.... Yoonmi-ah....” panggil Dujun membuat Yoonmi mau tidak mau ahirnya menoleh dengan mata sembab.
“Jaga Yoseob-ku ya. Haha..... Terimakasih sudah hadir dikehidupanku. Kamu yeoja pertama....dan terahir... yang singgah disini” ucap Dujun sambil menunjuk dadanya.
“Kumohon, jaga Yoseob. Jangan biarkan dia disakiti lagi. Kalau sampai Yoseob terluka, aku akan menggentayangimu” Dujun tertawa kecil, namun yang lainnya tetap menangis.
“Saranghae.....” ucap Dujun terputus.
“.....Yoonmi-ah. Maaf baru kukatakan sekarang. Aku yang lemah, bukan Yoseob. Sampaikan salamku pada teman-teman disekolah ya” Lanjut Dujun dengan wajah seperti menahan sakit yang teramat sangat. Tubuhnya semakin dingin. Dujun membalas genggaman tangan Yoseob dengan sangat erat seakan belum rela untuk pergi.
“Dujun harus pergi. Dujun sayang kalian semua. Terimakasih banyak. Annyeong.” Dujun menghembuskan nafas dalam-dalam. Genggaman tangannya melonggar. Matanya terpejam rapat dan tidak akan kembali terbuka. Seluruh air mata yang mengalir dipipi semua orang diruangan itu mengiringi kepergian Dujun.
*EPILOGUE*
Sudah 10 tahun semenjak kepergian Dujun. Yoseob termenung disofa rumah besarnya. Yoonmi, istrinya menghampiri punggung Yoseob yang terlihat rapuh setiap kali teringat akan sahabatnya, Dujun.
“Relakan lah. Dia pasti bahagia disana” ucap Yoonmi tersenyum sambil mengusap punggung Yoseob. Yoseob tersenyum.
“Hm... Kira-kira dia marah gak ya kita nikah? Hahaha” Canda Yoonmi.
“Sangat marah. Dia sudah menamparku dan memaki-makiku dalam mimpi” canda Yoseob tertawa pelan.
Yoseob dan Yoonmi baru saja akan mencondongkan kepalanya ketika terdengar suara tangisan bayi. Yoseob tersenyum. Ia menghampiri bayinya sedangkan Yoonmi memperhatikannya. Bayi yang diberi nama ‘Dujun’ itu berhenti menangis setelah digendong oleh sang appa. Yoonmi tersenyum. Yoseob membalas senyuman itu. Melihat senyuman Yoonmi, Yoseob teringat akan kata-kata Dujun.
“Take care of my friend”
Yoseob menoleh pada bayinya mengingat kata-kata itu.
“I will Dujun-a”
*THE END*
(ps. backsound endingnya Love Day - Yoseob & Eunji ya. Gamau tau. Hah-_-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar