Cast: -Shin EulMi
-Girls Day’s Bang MinAh
-4Minute’s Kwon SoHyun
-Kara’s Goo HaRa
-MBLAQ’s Lee ChangSun (Joon)
-B2ST’s Yong JunHyung
-DGNA’s Lee SuHoon (Mika)
Genre: Horror, Romance
***
“Sohyun...tadi....ilang..” ucap Minah susah payah sambil terus menangis. Joon, Junhyung dan Eulmi hanya menatap bingung,
“Ok, thats it ya. Kita pulang sekarang pake van” usul Junhyung
“Gak! Cari Sohyun sama Minah dulu sampe ketemu, baru kita pulang” Ketus Joon
“Aku yang nyetir” Lanjut Joon sambil menghampiri van
“Nanti kamu ceritain di van aja” ucap Eulmi lembut sambil merangkul pundak Minah.
***
“Ok, jadi tiba-tiba Sohyun ditarik kedalem toilet?” Tanya Joon tidak percaya sambil masih menyetir.
“Iya, tiba-tiba aja, aku gatau itu siapa” jawab Minah tertunduk. Eulmi mengusap pundak Minah pelan. Sementara Junhyung menatap jalan kosong.
“Kenapa?” Tanya Joon membuyarkan pikiran Junhyung.
“Ngga” jawabnya singkat.
“Jadi sekarang kita mau cari kemana?” Tanya Junhyung membuat yang lain sibuk berfikir.
“Cari rumah yang lampunya nyala?” usul Eulmi.
“Terus mau ngapain disitu?” tanya Joon
“Tanya aja, kenapa disini sepi banget gitu” ucap Eulmi yang disetujui yang lain.
Seisi van sibuk memperhatikan rumah yang seperti berpenghuni. Minah yang kelelahan karena menangis terlalu lama ahirnya tertidur disalah satu kursi.
“Yang itu kayak rada terang ya” Junhyung menunjuk salah satu rumah yang terasnya diterangi sebuah lentera.
“Yaudah kesitu aja coba” ucap Joon sambil memarkirkan van. Eulmi menatap Minah ragu.
“Minah gapapa ditinggal sendirian?” tanya Eulmi
“Nggapapa kali, udah ayo” jawab Joon sambil turun dari van.
Junhyung berjalan didepan Eulmi dan Joon. Ia mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Junhyung mengetuk untuk kedua kalinya, tetap tidak ada jawaban. Junhyung mencoba mengetuk lebih keras, tapi pintu justru terbuka. Junhyung, Eulmi dan Joon mencoba melirik kedalam. Kosong.
“Pantesan gaada yang nyaut dari tadi” ketus Junhyung sambil keluar ruangan.
“AAAAAAAAAAH!” tiba-tiba teriakkan Minah dari dalam van membuat yang lain menoleh. Joon, Junhyung dan Eulmi langsung berlari menghampiri van dan mendapatkan pintu van yang terbuka. Van kosong. Minah menghilang.
Eulmi mendekap mulutnya menahan tangis.
“Cepet masuk ke van” perintah Junhyung. Setelah semuanya masuk, Joon kembali mengendarai van.
Keadaan van sepi, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ngerasa gak sih kayaknya kita diikutin?” Tanya Junhyung tiba-tiba
“Maksudnya?” Tanya Eulmi balik
“Ya, ada yang ngikutin kita. Ngga tau siapa. Ngikutin kita bahkan dari awal kita rencanain liburan kesini” Jelas Junhyung membuat yang lain diam.
“Kuncinya sekarang kita harus bareng-bareng terus. Gaboleh ada yang misah” ucap Joon tanpa mengalihkan pandangan dari jalan
“Nggak, kita pulang sekarang” ketus Junhyung
“Kita terusin!” bentak Joon tidak mau kalah
“Mika ilang! Terus Sohyun ilang! Terus tadi Minah ilang! Mereka juga belum tentu kan masih hidup? Mau gimana lagi?” Bentak Junhyung. Eulmi hanya menundukan kepalanya dikursi belakang.
“Orang yang ngikutin kita ini gabakal berenti, kamu tau? Orang ini pasti gak suka sama kita. Entah manusia bajingan macam apa yang sampe setega ini” Ketus Junhyung kesal.
“Terserahmu lah” ucap Joon putus mulai putus asa. Junhyung hanya menghela napas. Tatapannya jatuh pada secarik kertas diatas dashboard.
“Ini apaan?” tanya Junhyung pelan namun dapat mengambil perhatian Joon dan Eulmi.
“Mana sini coba liat” Eulmi merebut kertas dari tangan Junhyung.
“The school is the key” ucap Eulmi membaca tulisan dikertas itu.
“Sekolah! Cari sekolah!” teriak Junhyung membuat Joon melaju van lebih cepat.
Joon menghentikan vannya didepan sebuah gedung dua lantai yang menurutnya sekolah.
“Ini mungkin” ucap Joon sambil mengambil senter dan turun dari van. Junhyung dan Eulmi hanya mengikuti. Malam yang semakin larut membuat ketiganya lebih hati-hati.
Ketiganya menjelajah seluruh gedung berlantai kayu itu hingga kelantai dua. Joon berjalan paling depan. Kakinya melangkah menuju salah satu ruang kelas yang masih dipenuhi kursi dan meja.
“Kota mati gini mana ada yang mau belajar” komentar Joon sambil masuk keruang kelas itu. Junhyung dan Eulmi mengikuti sambil menyenter keseluruh ruangan.
“Gak ada apa-apaan hyung, keluar aja ayo” ajak Junhyung sambil keluar dari ruangan.
“Iya” jawab Joon namun pandangannya masih menjelajahi ruangan. Belum sempat Joon keluar tiba-tiba sepasang tangan menyerangnya dari belakang.
“AAAAA!” teriakkan Joon membuat Junhyung dan Eulmi berlari menghampirinya. Teriakannya terhenti karena sipemilik tangan memberikan membekap Joon dengan kain berbius.
“Joon-a!” Panggil Junhyung kedalam ruang kelas. Tidak ada jawaban. Joon menghilang.
“Bagus ya” gumam Junhyung kesal.
“Jadi, harus ngapain ini?” tanya Eulmi takut.
“Kita harus nyari disini tetep” jawab Junhyung sambil mencari kira-kiranya ada seseorang. Tanpa sadar, ia membelakangi Eulmi, dan.....
“AAAAA! JUNHYUNG OPPA!” Teriak Eulmi dengan seseorang menariknya dari belakang. Junhyung menoleh tapi reaksinya tidak terlalu cepat untuk mengejar Eulmi, dan karena gelapnya ruangan, Junhyung tidak bisa melihat orang yang menarik Eulmi.
Junhyung sendirian, tidak tau lagi harus melakukan apa. Junhyung berlutut untuk mengambil senter Eulmi yang terjatuh. Ia menyenter seluruh lorong. Perlahan langkahnya melewati ruang-ruang kelas.
“Ya!! Kalau berani, keluar sekarang! Siapapun kamu!” Teriak Junhyung tidak menentu ditujukan pada siapa, tapi ia yakin yang mengikutinya itu hanya satu orang.
“Keluar sekarang! Kembalikan teman-teman ku!” Teriak Junhyung masih menyenteri seluruh lorong.
“YA!! KELUAR SEKARANG!!” Teriak Junhyung mulai menangis putus asa. Sepasang tangan
membekapnya dengan kain berbius dari belakang. Junhyung tidak sadarkan diri.
***
Junhyung membuka matanya perlahan. Ia terbaring diatas lantai kayu sebuah ruangan. Sinar matahari yang masuk dari jendela menerobos matanya. Ruangan yang terang membuatnya dapat melihat seisi ruangan. Didapatkannya sepasang kaki didepannya. Junhyung mendongak dan terbelalak melihat sipemilik kaki, sekaligus pemilik tangan yang selama ini terus menghantuinya.
“Hara?!” ucapnya setengah berteriak karena kaget.
“Halo” ketus Hara
“Jadi kamu selama ini?”
“Yaiyalah. Pertanyaan bodoh”
“Tapi kenapa?”
“Aku suka sama oppa. Oppa nolak aku. Aku dendam. Jadi aku bales. Aku udah ngerencanain ini semua, dan ternyata semuanya berjalan sesuai rencana.” Jelas Hara
“Terus temen-temen aku? Salah mereka?” Tanya Junhyung sambil berdiri untuk menghadap Hara lebih jelas.
“Aku gasuka mereka bisa deket sama oppa, sedangkan aku nggak. Cemburu, hm, bisa dibilang sih, ya. Aku cemburu. Aku cemburu sama temen-temen oppa. Terutama Eulmi”
“Eulmi kenapa?”
“Oppa pikir aku gatau kalo oppa suka sama Eulmi?” Ketus Hara membuat wajah Junhyung memerah.
“Ok, jadi sekarang mana temen-temenku?” tanya Junhyung mengalihkan pembicaraan
“Oppa yakin oppa mau liat mereka udah jadi gelimpangan daging?” Ketus Hara membuat Junhyung melayangkan tamparannya kewajah Hara.
“Brengsek!” bentak Junhyung
“Oppa tau apa? Aku terlanjur sakit hati karena oppa. Buta karena sakit hati yang udah mendalam. Oppa nolak aku. Terus oppa suka yeoja lain. Aku gak rela oppa suka yeoja lain. Sekarang siapa yang brengsek?”
“Kamu itu egois!”
“Iya, aku terlalu egois untuk mendapatkan cinta oppa” ucap Hara pelan namun bisa menohok Junhyung.
“Tapi dengan cara kayak gini sama sekali gak merubah keadaan!” bentak Junhyung tidak dapat menahan emosi.
“Oppa brengsek! Oppa yang brengsek! Oppa brengsek!” Teriak Hara dan.....Buak!
Seseorang tiba-tiba melayangkan balok kayu kekepala Hara membuat Hara jatuh pingsan. Junhyung mendongak kaget.
“Selamat tidur brengsek” ejek orang itu.
“Eulmi?” Junhyung tersenyum. Eulmi melempar balok kayunya.
Junhyung tidak bisa menahan rasa bahagianya langsung mendekap Eulmi.
“Kupikir kamu mati” ucap Junhyung lega sambil menatap Eulmi
“Karena dia? Cih!” ejek Eulmi. Junhyung mundur perlahan.
“Jadi...kamu denger semuanya tadi?” Tanya Junhyung
“Ya.... Kurang lebih. Hehe” cengir Eulmi. Senyumannya membuat Junhyung tenang. Junhyung perlahan mendekatkan wajahnya kewajah Eulmi tiba-tiba....
Bruk!
Peralatan pembersih jatuh berantakan dari salah satu ruangan. Minah hanya nyengir dari dalam ruangan, sementara Mika, Joon, dan Sohyun masih berdesak-desakan dibelakangnya. Junhyung tersenyum lega teman-temannya baik-baik saja.
“Sorry iklan dulu, hehe” cengir Minah sambil keluar dari ruangan itu.
“Jadi semaleman kita dikerem bareng alat pembersih ya. Okesip” komentar Mika
“Kirain gabakal ketemu kalian lagi” ucap Sohyun lega.
“Jadi yang tadi itu apa? Romantic scenenya?” cengir Joon sambil melirik Junhyung
“Belom hyung beloom” Jawab Junhyung malu.
“Jadi? Sekarang?” Tanya Eulmi mengalihkan pembicaraan.
“Villaku lah tetep. Ayo cepet” Perintah Mika sambil berjalan keluar gedung diikuti yang lain.
“Eh, Hara gimana?” tanya Joon menunjuk Hara yang masih terbaring pingsan. Yang lain menengok meminta jawaban dari Junhyung.
“Okay, Aku yang gendong” jawab Junhyung tersenyum.
“Bukan pendendam ya” Komentar Joon memperhatikan Junhyung yang menggendong Hara
“Bukan lah hyung haha” jawab Junhyung tersenyum
“Seberat apapun kesalahannya, pasti ada sebabnya dia bikin kesalahan itu, dan selalu ada cara kita buat maafin dia” lanjut Junhyung membuat Joon tersenyum bangga.
“Cool!”
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar