Author: Riri
Cast: -Shin EulMi
-Girls Day’s Bang MinAh
-4Minute’s Kwon SoHyun
-Kara’s Goo HaRa
-MBLAQ’s Lee ChangSun (Joon)
-B2ST’s Yong JunHyung
-DGNA’s Lee SuHoon (Mika)
Genre: Horror, Romance
***
GILAK FF ke 5 apa keberapa au gapenting (-_-) selesaaaaai! *tumpengan* Yep. Ini termasuk ff yang proses (halah proses) nya paling lama. Sebulan lebih ada kali, gara-gara syndrome males akut. Awalnya ini ff mau di-lmba-in, tapi karena dead-line yang udah didepan mata, gajadi deh-_- Terus ya, gabiasanya saya bikin ff horror yakan ;;) Jadi, yang masih takut sama bayangan sendiri(?) jangan baca. Nah, cast yang saya pake disini (kayaknya) jarang dikenal. Jadi, biar enak bayanginnya(?) saya kasih aja fotonya^^ Here you go~
Yep, those are the casts yeyeyey. Cast ada 7, fotonya cuma 6. Tepat, yang gaada itu Shin EulMi. Siapakah dia? Saya juga gatau. Daripada kata pengantar(?)nya lebih panjang dari ffnya, jadi, I present to you my 5th fanfiction^^~
Oiya, buat yang JunRa (Junhyung-Hara) shipper, mianhae ya disini saya jadikan korban kkk^^~
***
“Oppa, aku suka oppa”
"Terimakasih"
“Oppa mau jadi.....”
“Mianhae, aku gak bisa”
Hara langsung terbangun dari tidurnya karena itu masuk ke mimpinya. Kejadian seminggu lalu. Saat Junhyung menolak cintanya. Perasaan sedih menyelimuti hatinya yang entah sampai kapan akan berahir.
Hara sudah mencoba untuk melupakan Junhyung, tapi mimpi itu datang dan membuat dirinya mau tidak mau harus mengingat kejadian pahit itu. Perlahan perasaan sedih dihatinya berubah menjadi perasaan dendam dan kecewa. Hara bertekad untuk membalas sakit yang ia rasakan pada Junhyung suatu saat nanti.
***
“Aish! Ya! Mika-a! Kembalikan handphone ku!” Teriak Junhyung yang sedang duduk bersama Mika dimeja kantin sekolah.
“Sebentar aja hyuuung. Pelit amat sih. Temen sendiri juga” jawab Mika sambil menghindari gapaian tangan Junhyung tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone Junhyung. Mika menaikkan alisnya ketika melihat salah satu foto di handphone Junhyung.
“Hyung... Kenapa ada foto Eul...”
“Hello~ Namja penuh kharisma ini datang” sapa Joon sambil mengibaskan rambutnya membuat Mika menghentikan kalimatnya. Junhyung langsung merebut handphonenya dari tangan Mika. Saved by Joon. Mika melirik tajam kearah Joon setelah menyadari handphone Junhyung lepas dari genggamannya.
“Apa?” Tanya Joon polos sambil membuka botol minum ditangannya.
“Nih” Ejek Mika bete sambil mengangkat hidungnya. Junhyung hanya dapat tertawa melihat kedua sahabatnya itu.
“Libur semester lusa nih. Bakal ngebosenin” keluh Mika sambil mengetukkan jarinya.
“Iyap” jawab Joon singkat sambil menadah dagunya.
“Hallooooooo~” sapa Sohyun nimbrung dengan Minah dan Eulmi yang mengikutinya.
“Aaah, kumpul berenam, as usual~” cengir Joon.
“Libur semester lusa nih. Bakal ngebosenin” keluh Mika.
“Kamu udah bilang itu tadi” sindir Junhyung sambil mengantongi handphonenya. Mika hanya mencibir.
“Ah! Mau ke villaku?” usul Mika sambil menggebrak meja.
“Punya emang?” Tanya Minah polos.
“Kalo gak punya ngapain aku bilang gini?” Sindir Mika bete.
“Dimana emang?” tanya Joon antusias.
“Biasaaaa, daerah-daerah kecil gitu, udaranya masih sejuk banget” jelas Mika promosi.
“Mau gak?” Lanjutnya yang diberikan anggukan dari yang lain kecuali Junhyung yang justru menggeleng.
“Kenapa?” Tanya Mika kecewa.
“Gak kuat sama udara dingin” jawab Junhyung datar. Yang lain hanya memandang Junhyung dengan tatapan ‘terserah deh’.
*2 HARI KEMUDIAN*
“Oke, coba bilang lagi kenapa aku harus ikut kalian?” Tanya Junhyung bete sambil memasukkan kopernya kedalam van Mika.
“Soalnya kamu enak buat dibully” jawab Joon sekenanya. Junhyung menatap Joon tajam seolah matanya mengeluarkan laser.
“Apa?” tanya Joon pura-pura tidak mengerti.
“Gapapa” jawab Junhyung sambil merapatkan jaketnya.
“Cepetan naik. Mau ditinggal?” Perintah Eulmi yang melongokkan kepalanya dari dalam van.
Junhyung, Joon, Mika, Eulmi, Minah, Sohyun, berenam didalam van. Van saat itu sangat ramai, tapi Mika tetap bisa menyetir tenang dengan Joon yang duduk dikursi depan. Junhyung lama-kelamaan terbawa suasana dan bersyukur Mika dan Joon menrik dan memaksanya untuk ikut pagi tadi.
Tidak terasa 5 jam sdah berlalu, dan mereka sudah memasuki area pegunungan berkabut. Kondisi van mulai sepi karena sibuk memperhatikan pemandangan diluar. Hari itu masih siang, Mika meminggirkan vannya dan membiarkan yang lain keluar untuk menghirup udara pegunungan yang dingin.
“Seger bangeeeeet” Komentar Minah sambil merentangkan tangannya keluar van.
“Istirahat sebentar ya” pinta Mika dan dituruti yang lain.
Sohyun, Minah, dan Eulmi sibuk berfoto, Junhyung duduk dikursi lipat sambil mendengarkan musik, Joon sibuk mengganggu Junhyung karena tidak ada teman, sedangkan Mika tertidur didalam van.
Perlahan langit mulai jingga. Sinar matahari berangsur menghilang. Mika dan lainnya mulai bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Mika menyetir van perlahan karena jalan yang berkelok.
“Nanti sedikit lagi bakal sampe villa” Mika memberi tahu membuat yang lainnya menengok antusias. Bersamaan dengan itu juga, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti van. Mika memang tau itu akan terjadi karena didaerah itu selalu berkabut, terutama saat pergantian siang menjadi malam, tapi ia tidak tahu bahwa akan setebal ini. Mika tidak bisa melihat jelas kedepan. Ia hanya melihat samar dua lampu mobil didepannya. Mika mengikuti mobil itu berharap bisa menghindari jurang.
Lama-kelamaan kabut mulai menghilang dan keadaan diluar van mulai terlihat. Mika terbelalak, mobil itu tiba-tiba hilang, tapi yang lebih mengangetkannya, ia tidak tahu dimana ia sekarang. Yang ada didepannya adalah sebuat perkampungan yang tidak ia kenal. Ia terus melaju vannya tanpa tau arah.
“Mika-a, ada yang aneh ya?”Tanya Eulmi mengintip wajah Mika yang pucat.
“Kayaknya kita nyasar deh” ucap Mika pelan tapi bisa mengagetkan seisi van. Sohyun menggenggam tangan Minah erat menahan tangisnya.
“Ya!! Pabo!! Kau ini bagaimana sih?” Bentak Joon.
“Aku gatau! Tadi kabutnya ngalangin!” Balas Mika tidak mau kalah.
“Kamu mending berenti aja dulu tadi”
“Aku mau cepet sampe aja”
“Udah!! Gak ada gunanya sekarang berantem. Mendingan sekarang cari jalan ke villa, baru nanti sampe sana kalian ribut sepuasnya” Bentak Junhyung menengah pertengkaran. Seketika Mika dan Joon terdiam, begitu juga dengan penumpang lainnya. Eulmi diam-diam kagum dengan sikap kedewasaan Junhyung. Ia langsung menggeleng mengingat persaannya yang timbul disaat yang tidak tepat. Minah melirik Eulmi aneh. Keheningan menyeruak sesaat.
“Jadi... Sekarang gimana?” Tanya Sohyun membuat yang lain menoleh.
“Molla. Tanya aja sama supir jenius ini”sindir Joon sambil mengalihkan pandangannya kejendela. Mika hanya mencibir tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Mending sekarang numpang dirumah penduduk sini buat istirahat sebentar. Udah malem gini juga” usul Junhyung yang diberi anggukan yang lain.
Sudah sejam Mika mengendarai vannya mengintari daerah perkampungan itu.
“Ini dead town atau apa sih? Sepi banget!” Keluh Mika yang sudah mulai habis kesabarannya. Perkampungan itu memang terlihat ramai karena banyaknya rumah, tapi tidak ada tanda-tanda penduduk yang tinggal.
“Mau pipiiiiiiis” Keluh Minah memohon dengan wajah memelas.
“Punya botol?” Tanya Joon polos.
“Ya! Kamu pikir aku apa!” ketus Minah.
“Yang itu terang, ada toilet kali” usul Sohyun sambil menunjuk salah satu bangunan tua yang remang-remang.
“Yaudah coba disitu aja” Mika memarkirkan mobilnya.
Minah meminta Sohyun untuk menemaninya ketoilet, sedangkan yang lainnya duduk diluar beristirahat. Mika baru akan duduk disalah satu kursi bambu depan bangunan itu ketika tiba-tiba alarm vannya berbunyi. Mika menghampiri vannya dengan malas, sedangkan yang lain hanya membiarkannya.
Mika heran karena tidak ada apa-apa disekitar vannya. Ia membuka pintu untuk melihat kedalam van, tanpa disadari seseorang sudah berdiri dibelakangnya, dan.....
Buak!!
Mika terkapar. Mendengar suara yang tidak biasa, Junhyung, Joon, dan Eulmi refleks menoleh kearah van dan melihat darah segar yang menutupi sebagian kaca depan van. Eulmi menutup mulutnya menahan tangis. Mereka lantas berlari menuju van dan tidak menemukan Mika dimanapun, dan anehnya lagi, kaca depan van sudah tidak ada noda darah sedikitpun. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk dikepala ketiganya.
“Ini maksudnya apa?” Tanya Eulmi dengan suara bergetar.
“Nggak tau, tapi pasti ada apa-apa” Jawab Junhyung merasa was-was
“Kita jangan sampe mencar!” tegas Junhyung
“Sohyun.... Minah...” ucap Joon tiba-tiba
“Sohyun Minah!” refleks Junhyung mengulang kata-kata Joon., Ketiganya langsung mencari Sohyun dan Minah.
*Meanwhile....*
“Cepetan dong, lama amat” protes Sohyun sambil menggedor pintu toilet
“Sabar dikit napa” keluh Minah dari dalam toilet.
Tidak lama kemudian, Minah keluar sambil merapikan bajunya.
“Menurut kamu disini ada orang?” Tanya Sohyun takut
“Ada kayaknya” jawab Minah polos.
“Tau dari mana?”
“Ini ada bekas kaki orang masih basah nih” jawab Minah sambil menunjuk lantai berjejak kaki yang masih basah tanda baru dilewati.
“Oiyaya” Sohyun mengiyakan.
Sohyun berjalan mengikuti Minah sambil masih memperhatikan jejak kaki didekatnya. Ia mendongak dan melihat sekelebat bayangan.
“Mi...Minah-a... kamu liat tadi?” Tanya Sohyun ketakutan.
“Liat apasih? Jangan nakutin” bantah Minah sambil terus berjalan. Sohyun tetap mengikuti Minah meskipun masih takut dengan bayangan yang dilihatnya. Tanpa disadari sepasang tangan sudah siap menergap Sohyun dari belakang.
“AAAAAAAH!!” teriak Sohyun setelah tangan itu menangkap dan menariknya kedalam salah satu bilik toilet. Minah refleks menoleh, tapi tidak terlalu cepat untuk mencegah pemilik tangan itu. Teriakan Sohyun menghilang dari bilik toilet.
“SOHYUN-A!! BUKA PINTUNYA!!! SOHYUN-A!!” Teriak Minah panik sambil menggedor pintu toilet.
“SOHYUUUUN!!! KAMU GAPAPA?!” Minah menabrakan tubuhnya hingga pintu toilet itu terbuka. Matanya terbelalak melihat bilik toilet yang kosong. Tubuhnya mendadak lemas. Dengan sekuat tenaga ia menghampiri van.
Pandangan Minah tidak jelas karena tertutup air mata yang mengalir. Kakinya terus berlari sedangkan pikirannya berantakan, hingga ahirnya ia tidak sengaja menabrak orang didepannya.
“Minah-a! Kenapa?” Tanya orang didepannya itu yang ternyata Joon panik
“Sohyun... Sohyun...” ucap Minah terhambat tangisnya
“Sohyun kenapa?” Tanya Junhyung panik, Eulmi ikut menghampiri.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:
Posting Komentar